Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About

Friday, January 14, 2022

Golek Jamur Rutinitas Warga Pinggiran Hutan Madiun Saat Curah Hujan Tinggi

Warga pinggiran hutan panen jamur barat di saat musim hujan datang dengan curah hujan tinggi (Fot: Tim/gw)
GEMAWILIS, Madiun -
Hujan mulai rutin mengguyur wilayah Kabupaten Madiun, tak terkecuali daerah di sekitar lereng gunung Wilis atau Madiun bagian timur. Suhu udara makin sejuk, bahkan cenderung dingin hingga terasa menusuk tulang.

Rintik air hujan juga sering turun di pagi hari ditemani kabut tipis menyelimuti wilayah yang mayoritas berletak atau berdekatan dengan hutan jati milik perhutani ini.

Ada yang unik, sebab kondisi tersebut ternyata memberi berkah tersendiri bagi warga yang tinggal di daerah pinggiran (daerah pedesaan) lantaran bisa mendapatkan jamur secara gratis dari hutan. Biasanya warga sekitar menyebut rutinitas tersebut dengan bahasa Golek Jamur.

Kondisi curah hujan cukup tinggi seperti yang terjadi pada akhir-akhir ini, jamur yang tumbuh liar di hutan jati cukup melimpah. Tak ayal, warga ramai mengambilnya untuk dikonsumsi maupun dijual.

Tumbuhan yang bernama latin clitocybe nebularis itu memang banyak tumbuh di daerah Madiun timur, seperti di Kecamatan Kare, Gemarang, Saradan, Dagangan dan juga Kecamatan Wungu sebagian yang notabene di dominasi kawasan hutan.

Umumnya jamur yang tumbuh dan sering dicari warga daerah pinggiran hutan adalah jenis jamur barat. Jamur barat sendiri berbentuk batang dan tudung seperti camping gunung, tinggi sekitar 5-10 cm dengan diameter atau besar batang maksimal 1 cm. Lebar tudung atas lebar maksimal 15 cm, berwarna putih agak kelabu dan kecoklat-coklatan, dan mempunyai bau yang khas.

"Sejak seminggu ini mulai keluar jamur barat, kalau pagi warga sini termasuk saya sering mencari ke hutan. Pagi, jam lima sudah pada nyari, kalau gak pagi-pagi gak kebagian, "ujar Tri Cahyo, warga RT 28 RW 02, dusun Dungus Kelurahan/Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jumat (14/1/2022).

Kondisi jamur di hutan sebelum di cabut, tumbuh melimpah di semak-semak yang teduh dengan kondisi lembab (Fot: Tim/gw)
Menurut Tri Cahyo, jamur barat tumbuh liar tanpa ditanam atau dibudidayakan, bisa di pekarangan rumah, bawah batang bambu, di hutan atau tempat lain dengan sendirinya dan hanya muncul setahun sekali pada saat musim hujan antara bulan Desember -Januari.

"Ya dibuat lauk sendiri, bisa diolah menjadi sayur lodeh atau pun oseng-oseng. Tapi kalau dapatnya banyak biasanya juga di jual. Tadi sebagian saya jual dapat 100 ribu, "tambah Tri Cahyo.

Untuk mencari jamur sendiri, menurut pemuda 22 tahun tersebut bisa dibilang susah-susah gampang. Sebab, meski sudah berniat mencari jamur hingga ke hutan-hutan kadang malah tidak mendapatkan.

"Susah-susah gampang, tergantung lagi bejo atau tidak. Terkadang mencari di grumbulan (semak-semak -red) atau di bawah pohon juga tidak ketemu. Tapi kalau orang yang bejo biasanya nemu saja, gampang sering dapatnya, "ujarnya.

Ia mengaku berburu jamur saat musim seperti ini bisa jadi hiburan tersendiri di waktu pagi hari sebelum melakukan aktivitas yang lain. Bahkan sebagian warga juga ada yang setiap pagi mencari jamur untuk di jual lantaran hasil yang didapat cukup melimpah.

"Kalau untuk di masak sendiri gak habis, kalau dapatnya banyak. Jadi kadang di jual juga, banyak yang beli, berebut, "pungkasnya.

Sebagai tambahan informasi, jamur barat bisa muncul sendiri secara liar di tempat yang lembab, atau di bawah pohon yang rindang atau di semak-semak yang teduh dan lembab. Dinamakan jamur barat, karena jamur ini tumbuhnya saat banyak angin dari arah barat (menurut orang jawa). (Tim/gw)





Rekomendasi