Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About

Monday, November 15, 2021

Kuliner Ekstrim Penuh Gizi, Ulat Jati Hadiah Alam untuk Masyarakat Pinggiran Hutan

Musim entung jati datang pada setiap tahun sekali diawal musim hujan (Fot: Ilustrasi/Ist)
GEMAWILIS, Kabar Alam -
Setelah daun jati berguguran kemudian mereka tumbuh baru dengan warna hijau segar, secara bersamaan ulat (uler jati) akan datang dan memakan daun jati muda sebagai bahan energi dalam berproses berubah menjadi kepompong (entung jati) dan kupu-kupu.

Ulat jati biasanya akan menyerang pada awal musim penghujan, menyerang pohon-pohon jati yang baru saja memunculkan daun-daun hijau setelah menggugurkan daun ketika musim kemarau.

Ulat muda akan memakan daun yang lunak dengan meninggalkan urat-urat dan tulang-tulangnya. Sementara ulat dewasa memakan seluruh jaringan daun kecuali tulang-tulang daun yang besar dan makan pada malam hari.

Lalu ketika ulat sudah merasa cukup kenyang, ia akan turun ke tanah. Caranya dengan terjun menggunakan air liurnya yang membentuk sulur. Mirip yang dilakukan oleh binatang laba-laba.

Sesampai di tanah kemudian ulat akan mencari tempat tersembunyi. Biasa di balik daun, ranting atau batu, dimana ia membungkus dirinya dengan air liur dan butiran tanah, kemudian bertapa untuk berubah bentuk menjadi kepompong.

Datangnya ulat jati setiap tahun sekali ini menjadi berkah dan menjadi sebuah rutinitas yang terjadi dalam kawasan masyarakat sekitar hutan. Saat proses ulat berubah menjadi kepompong berwarna coklat tua dan permukaannya licin inilah waktu yang biasanya digunakan oleh masyarakat sekitar hutan untuk mengumpulkannya (golek entung).

Rutinitas golek entung tersebut biasanya dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di kawasan pinggiran hutan. Jika di Kabupaten Madiun seperti di daerah Kecamatan Saradan, Gemarang dan Kare. Dimana tiga kecamatan di Kabupaten Madiun tersebut seperti kita ketahui adalah daerah yang berdekatan dengan kawasan hutan jati milik Perhutani.

Ada sebagian para warga yang sengaja mencari entung jati untuk di nikmati sendiri (buat lauk) tetapi ada juga yang mencarinya untuk di jual ke pasar atau ke pelanggan mereka. Karena saat musimnya datang potensi ulat jati sangat melimpah pun masyarakat yang berpesan entung jati untuk dijadikan kuliner lezat juga banyak.

Beberapa informasi terkait gizi, dari hasil penelitian kepompong ulat jati mengandung protein yang sangat besar dengan fungsi untuk mengatur keseimbangan air, memelihara netralitas tubuh, membentuk antibodi, mengangkut zat-zat gizi (misalnya lipo protein dan transferin), biokatalisator dan sumber energi.

Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa kepompong ulat jati mengandung protein cukup tinggi, yaitu 13,9% setara dengan kandungan protein pada ikan ekor kuning, teri nasi segar, dan kepiting, tetapi sedikit di bawah daging ayam, itik, kambing, domba, dan sapi, serta sedikit di atas telur ayam dan telur itik. Kandungan gizi lainnya adalah 2,3% lemak; 2,4% serat; 1,0 % abu; dan 75,1% air.

Jika dijadikan kuliner lezat pun caranya cukup mudah, yakni cukup dengan rempah-rempah yang sering dijumpai di dapur. Pertama entung jati harus dicuci hingga bersih kemudian direbus hingga matang. Tingkat kematangan entung jati dari yang mulanya berwarna hitam kecoklatan akan berubah menjadi merah kecoklatan. Setelah itu ungker siap diolah menjadi kuliner tumis atau disayur lodeh, balado hingga rempeyek.

Untuk menetralisir efek negatif entung jati bagi yang khawatir mengalami alergi saat mengolahnya menjadi kuliner, ada yang menganjurkan untuk dicampur dengan daun kedondong. Di luar rasanya semakin sedap mantap juga untuk meminimalkan efek samping yang ditimbulkan. (*/Tim/gw)

Rekomendasi