Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
 

Saturday, September 4, 2021

Harga Porang Jatuh, Petani: Tak Masalah Happy-Happy Saja

Jatuhnya harga porang pada musim panen tahun ini tak membuat petani kawakan ambil pusing.
Gemawilis/MADIUN -
Terkait turunnya harga porang pada musim panen tahun ini, seorang petani yang sudah lama menekuni budidaya porang, Didik Kuswandi, yang juga Kepala Desa Klangon, Kecamatan Saradan Madiun mengatakan tidak masalah.

Menurutnya, dulu tanaman porang dianggap gulma, tumbuhan liar. Kemudian sekitar tahun 2000-an harga porang mulai merangkak naik baru orang beramai-ramai mulai tertarik budidaya porang.

Didik Kuswandi menambahkan dinamika harga komoditas porang pada saat ini terbilang dinamis dalam range wajar dan tergantung dengan mekanisme pasar (supply and demand).

"Harga porang Rp 6000 hingga Rp 7000 itu adalah wajar dan normal-normal saja, bahkan masih jauh lebih untung dibanding komoditas lain. Bandingkan juga BEP (break even point) nya, jauh lebih rendah. Dulu harga porang juga pernah jatuh sekitar Rp 400 perkilogram, Rp 2.000 dan pernah mencapai Rp 4.000, "katanya. Jumat (3/9/2021).

Pria yang sudah menanam porang selama 7 tahun sejak orang tuanya memulai pada tahun 1985 itu menjelaskan porang bukan merupakan komoditas tanaman semusim yang bisa langsung dipanen, tetapi menanam porang baru dapat dipanen pada tahun kedua dan seterusnya.

"Jadi harga saat ini masih menguntungkan. Biasanya petani yang baru terjun berbudidaya porang mengeluh harga karena belum kenal seluk beluk porang, kalau saya sih petani sudah tanam porang ya harga tidak ada masalah, happy-happy saja, "ungkapnya.

Didik menuturkan bahwa keunggulan yang dimiliki porang jika dibandingkan dengan komoditas tanaman pangan lainya adalah petani dapat menunda masa panen. Untuk menjaga harga sebaiknya tidak terburu-buru menjual bila harga belum cocok.

 "Komoditas porang ini berbeda dengan tanaman lain, porang bisa ditunda panennya dan aman tidak rusak, malah nanti dipanen pada musim berikutnya umbinya semakin akan besar, "jelasnya. (An/Tim/gw)

Topik Lain