Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
 

Tuesday, August 3, 2021

Hindari Kantong Jebol Perokok di Lereng Wilis Beralih ke Tingwe Seiring Mahalnya Rokok Pabrikan

Hindari kantong jebol di masa pandemi Covid-19 perokok di lereng wilis beralih ke rokok linting dewe.
Gemawilis -
Seiring mahalnya harga rokok pabrikan karena naikknya CTH (Cukai Hasil Tembakau), sejumlah perokok di daerah lereng Wilis, kini mulai beralih untuk menggunakan tembakau racikan sendiri atau tingwe (lintingan dewe).

Hal tersebut terlihat dari larisnya tembakau racikan yang dijual oleh beberapa pedagang tembakau tingwe di sekitar Pasar Gondosuli, Desa/Kecamatan Kare,  Kabupaten Madiun. Seperti di Toko Tembakau Sugihwaras depan Sekolah MTsN 9 Madiun atau eks-terminal Pasar Gondosuli.

Iguh (24) penjual tembakau racikan di Toko Tembakau Sugihwaras menuturkan naiknya CHT beberapa waktu yang lalu ditambah imbas pandemi Covid-19 membuat tingwe lebih digemari masyarakat karena harganya yang murah dan lebih irit, sehingga tidak membuat kantong jebol.

"Ini belum lama buka disini sekitar dua bulanan. Kalau di tanya rata-rata semua pelanggan saya dulunya merupakan perokok rokok pabrikan. Mungkin karena tingginya harga rokok pabrikan dan juga keadaan perekonomian di masyarakat sekarang banyak yang memilih beralih ke tingwe, "ujar Iguh. Selasa (3/8/2021).

Setiap harinya, kata Iguh, pelanggan yang datang usianya beragam dan dari semua kalangan. Namun, mayoritas rata-rata rentang usianya sekitar 35 tahun ke bawah, atau didominasi oleh para pemuda.

"Kalau berapa orang yang datang gak ngitung sih, tapi selalu ada. Menurut saya di bawah umur 35 tahunan. Memang anak muda lebih suka beli tembakau di sini karena ada banyak variasi rasa dan bisa dicoba langsung di sini, "kata dia.

Toko Tembakau Sugihwaras sendiri menyediakan atau menjual banyak jenis tembakau dengan bermacam-macam variasi rasa. Sehingga perokok yang datang bisa mencobanya sesuai selera masing-masing.

Terkait harga, menurut Iguh sangat terjangkau, ia membanderol tembakau racikan tidak terlalu tinggi agar bisa di jangkau oleh semua kalangan. Mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 20 ribu, dengan rasa bermacam-macam tergantung selera.

"Tembakau ada dari bos saya ini, rasanya bermacam-macam variasi. Ada rasa cappucino, apel, mentol, teh dan masih banyak lagi. Mungkin itu yang disukai perokok selain murah, "terang dia.

Salah seorang pelanggan, warga Desa Cermo, Kardi, saat membeli tembakau di toko milik Iguh menjelaskan, jika dibanding rokok pabrikan, tingwe harganya jauh lebih murah dan lebih irit, sehigga untuk kebutuhan merokok tidak perlu merogoh kocek terlalu banyak.

"Biasanya di sini saya beli tembakau rasa. Dua rasa di campur jadi satu, satu ons dua rasa. Itu bisa untuk seminggu dan setelah dilinting jadinya ada sekitar 100 batang rokok, jadi lebih irit dibanding beli rokok pabrikan yang satu bungkus langsung habis dalam sehari, "ungkapnya. (Tim/gw)

Topik Lain