Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
 

Tuesday, July 27, 2021

Tradisi Diang Kembali Marak Dilakukan Warga di Lereng Wilis Usai Magrib untuk Tolak Pagebluk

Warga di lereng wilis usai magrib membakar kayu di depan rumah untuk tolak pagebluk (Fot: Sel/Ist)
Gemawilis -
Selain tradisi ritual usir Pageblug dengan kesenian Dongkrek yang dilakukan warga di lereng Wilis, belakangan tradisi Diang atau ada yang menyebutnya api-api (bakar kayu) juga sedang marak dilakukan oleh warga masyarakat yang ada di lereng Wilis.

Di daerah Desa Kare, Kecamatan Kare misalnya, terlihat di pinggir-pinggir jalan baik di ruas jalan utama maupun jalan masuk ke kampung warga terpantau dalam sepekan ini marak melakukan Diang atau bakar kayu di depan rumah.

Bahkan, hal serupa dari informasi yang berhasil kami himpun juga dilakukan oleh warga di lain desa seperti di Desa Randualas, Cermo, Morang hingga daerah di Kecamatan Gemarang dan sekitarnya.

Diang, dipercaya masyarakat sebagai cara tolak bala, agar terhindar dari bahaya atau pageblug corona. Aktifitas tersebut biasanya dilakukan warga usai menjalankan salat magrib dan sudah berlangsung kurang lebih sekitar satu minggu.

Menurut salah satu warga di Dusun Gondosuli, Marno, tradisi tolak bala dengan cara membakar kayu di pekarangan rumah atau pinggir jalan depan rumah memang sering dilakukan oleh orang-orang jaman dulu. Namun saat ini sudah jarang dijumpai karena tergerus modernisasi.

"Dulu mbak-mbah kita kalau selesai magrib diang di depan rumah untuk mengusir pageblug. Ini juga bentuk ikhtiar dan tradisi nenek moyang juga. Selain penerapan prokes, kita juga mencoba tradisi yang dulu pernah ada, "jelasnya. Selasa (27/7/2021) petang.

Selain itu, dari penuturan beberapa warga yang di jumpai Gemawilis.com, tradisi diang konon pada jaman dulu memang diyakini bisa mengusir pagebluk atau wabah penyakit. Sehingga dengan adanya pandemi Covid-19 tradisi itu diingat dan dilakukan kembali oleh masyarakat.

"Katanya sih seperti itu, ini saya hanya ngikutin saja apa kata orang-orang dulu, hanya dengar cerita, "kata Agus di tempat terpisah.

Pantauan media, tradisi bakar kayu di depan rumah usai magrib selama ini memang sudah jarang terlihat di masyarakat. Namun kini tradisi tersebut kembali di lakukan oleh masyarakat khususnya di lereng Wilis seiring pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai.

Baca Juga: Muncul Tengah Malam Ritual Usir Pageblug di Lereng Wilis

Sementara itu, untuk jenis kayu yang di bakar tidak ada standar khusus. Warga membakar kayu seadanya dari jenis kayu apa saja. Bahkan beberapa warga ada yang memanfaatkan kegiatan itu sekaligus untuk membakar sampah. (Tim/gw)

Topik Lain