Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About

Saturday, July 17, 2021

Sejarah Berdirinya Kabupaten Madiun yang Dulu Bernama Purabaya

Gemawilis -
Ha
ri Minggu tanggal 18 Juli 2021 Kabupaten Madiun akan Merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) nya yang ke 453 tahun. Dengan itu Pemerintah Kabupaten Madiun juga telah meluncurkan logo untuk menyemarakkan hari jadi Kabupaten Madiun yang ke 453.

Karena masih dalam situasi pandemi Covid-19, di hari  jadinya yang ke 453 tahun ini Pemkab Madiun mengusung tema, "Kita Tingkatkan Semangat Kebersamaan Menuju Masyarakat Sehat dan Sejahtera".

Nah, lalu kapan dan bagaimana sejarah berdirinya Kabupaten Madiun hingga sampai di usianya yang ke 453 tahun. Berikut sejarah singkat terkait berdirinya Kabupaten Madiun.

Dikutip dari laman resmi milik pemkab madiun (madiunkab.go.id), dituliskan bawa Kabupaten Madiun berdiri (ditinjau dari pemerintahan yang sah) pada tanggal paro terang, bulan Muharam, tahun 1568 Masehi tepatnya jatuh hari Kamis Kliwon tanggal 18 Juli 1568/Jumat Legi tanggal 15 Suro 1487 Be Jawa Islam.

Berawal pada masa Kesultanan Demak yang ditandai dengan perkawinan Putra Mahkota Demak Pangeran Surya Patiunus dengan Raden Ayu Retno Lembah putri dari Pangeran Adipati Gugur yang berkuasa di Ngurawan, Dolopo. Pusat Pemerintahan dipindahkan dari Ngurawan ke Desa Sogaten dengan nama baru Purabaya (sekarang Madiun). Pangeran Surya Patiunus menduduki Kesultanan hingga tahun 1521 dan diteruskan oleh Kyai Rekso Gati. (Sogaten/tempat Rekso Gati).

Pangeran Timoer dilantik menjadi Bupati di Purabaya tanggal 18 Juli 1568 berpusat di desa Sogaten. Sejak saat itu secara yuridis formal Kabupaten Purabaya menjadi suatu wilayah Pemerintahan di bawah seorang Bupati dan berakhirlah pemerintahan pengawasan di Purabaya yang dipegang oleh Kyai Rekso Gati atas nama Demak dari tahun 1518-1568.

Pada tahun 1575 pusat pemerintahan dipindahkan dari desa Sogaten ke desa Wonorejo atau Kuncen, Kota Madiun sampai tahun 1590. Pada tahun 1686, kekuasaan Pemerintahan Kabupaten Purabaya diserahkan oleh Bupati Pangeran Timur (Panembahan Ronggo Jumeno) kepada putrinya Raden Ayu Retno Dumilah. Bupati inilah selaku senopati manggalaning perang yang memimpin prajurit-prajurit Mancanegara Timur.

Pada tahun 1586 dan 1587 Mataram melakukan penyerangan ke Purbaya dengan Mataram menderita kekalahan berat. Pada tahun 1590, dengan berpura-pura menyatakan takluk, Mataram menyerang pusat istana Kabupaten Purbaya yang hanya dipertahankan oleh Raden Ayu Retno Djumilah dengan sejumlah kecil pengawalnya. Perang tanding terjadi antara Sutawidjaja dengan Raden Ayu Retno Djumilah dilakukan disekitar sendang di dekat istana Kabupaten Wonorejo (Madiun).

Pusaka Tundung Madiun berhasil direbut oleh Sutawidjaja dan melalui bujuk rayunya, Raden Ayu Retno Djumilah dipersunting oleh Sutawidjaja dan diboyong ke istana Mataram di Plered (Jogjakarta) sebagai peringatan penguasaan Mataram atas Purbaya tersebut maka pada hari Jumat Legi tanggal 16 November 1590 Masehi nama “Purbaya” diganti menjadi “Madiun”. (Hum) Tim

Rekomendasi