Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Sunday, July 04, 2021

Pelopor Perpaduan Seni Pedalangan Dengan Peralatan Musik Modern, Berikut Profil Ki Mantep Sudharsono

Ki Mantep Sudharsono banyak memberi perubahan di dunia seni wayang kulit di Indonesia dan telah banyak menerima penghargaan (Fot: istimewa)
Gemawilis -
Seperti kita ketahui bersama, sebuah berita duka datang dari dunia kesenian, yakni Dalang kondang Ki Manteb Sudharsono tutup usia pada Jumat (2/7/2021) pukul 09.45 Wib. Ki Manteb Sudharsono meninggal pada usia 72 tahun.

Ki Mantep Sudharsono adalah seorang dalang wayang kulit ternama dari Jawa Tengah. Ki Mantep lahir pada Selasa Legi, 31 Agustus 1948, di Dukuh Jatimalang Kelurahan Palur, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah. Berikut profil singkat Dalang kondang Ki Mantep Sudharsono.

Ki Mantep Sudharsono dikenal sebagai pelestari kesenian wayang di Indonesia, pria kelahiran 1948 itu semasa hidupnya merupakan salah satu tokoh panutan sekaligus guru bagi para dalang di Indonesia. Ia juga tercatat sebagai penasehat di organisasi Paguyuban Dalang Surakarta.

Ki Mantep bisa menjadi dalang kondang berkat didikan dari keluarganya, terutama sang ayah, Ki Hardjo Brahim Hardjowijoyo. Ki Mantep semasa kecil di didik cukup keras dalam laku prihatin yang dijalankannya hingga sekarang. Sejak kecil ia sudah sangat rajin dan tekun mengikuti pementasan orang tuanya.

Orang tua dan kedua kakek Ki Manteb Soedharsono juga merupakan dalang kondang. Sehingga dapat dikatakan, Ki Manteb Sudharsono merupakan anak keturunan seorang dalang tus (dari keluarga dalang).

Saat usia lima tahun, ia sudah bisa mendalang. Beberapa alat gamelan seperti gendang, demung, dan bonang sudah bisa ia kuasai. Tak heran jika pada usianya baru menginjak sepuluh tahun, Ki Mantep sudah mampu memainkan wayang kulit dengan bagus.
Berkat ketekunannya berlatih dengan gemblengan dari sang ayah itulah akhirnya pada sekitar pertengahan tahun 1980an, Ki Manteb bisa mencapai puncak ketenarannya dengan kepandaiannya memainkan wayang kulit.

Ki Mantep Sudarsono bahkan mampu menciptakan sebuah lakon yang berbeda dengan lakon-lakon konvensional lainnya serta mampu menuangkannya ke dalam garap pakeliran ditambah dengan gaya sabetan yang apik saat mementaskan wayang kulit.

Tak hanya itu, saat mementaskan seni wayang kulit Ki Manteb juga berani memberikan inovasi-inovasi baru seperti pada gending, lakon dan menampilkan bintang tamu yang mana pada waktu belum pernah dilakukan oleh dalang-dalang sebelumnya sehingga pementasan wayang kulit menjadi lebih segar dan lebih bisa dinikmati orang-orang modern.

Ia banyak menciptakan lakon, dan yang paling terkenal adalah lakon Banjaran Bima. Ki Manteb juga dianggap sebagai pelopor perpaduan seni pedalangan dengan peralatan musik masa kini (modern). Karena kepiawaiannya dalam menampilkan seni wayang kulit itulah ia dijuluki oleh para penggemarnya sebagai Dalang Setan.

Berkat kesuksesannya menjadi dalang dengan arus pembaharuan di dunia kesenian wayang kulit itu, Ki Manteb Sudharsono mendapatkan berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri.

Pada 1995 Ki Mantep Sudarsono menerima penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Soeharto. Di tahun 2004 Ki Mantep bahkan berhasil memecah rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) dengan pencapaian sebagai dalang yang mendalang selama 24 jam 28 menit tanpa istirahat pada acara Ulang Tahun RRI Semarang.

Karena dedikasinya yang besar dalam menyebarkan dan melestarikan wayang kulit serta mampu menyajikan pertunjukan yang memukau bagi masyarakat dunia, Ki Mantep pada tahun 2010 tepatnya 19 Mei, menerima penghargaan budaya dari Nikkei (Nihon Keiza Shimbun) Asia Prize, sebuah penghargaan dari penerbit koran terbesar di Tokyo, Japan.

Beberapa negara yang pernah mengundang Ki Mantep untuk tampil mendalang antara lain Jerman, Amerika, Spanyol, Jepang, Suriname, Belanda, Prancis, Hongaria, Belgia, Austria, dan masih banyak lagi.

Hingga akhirnya wayang kulit ditetapkan oleh UNESCO sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible of Beritane of Humanity, Ki Mantep terpilih mewakili komunitas dalang  dari Indonesia untuk menerima penghargaan pada waktu itu. (Tim/gw/referensi berbagai sumber)

BERITA TERKAIT