Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Wednesday, July 21, 2021

Muncul Tengah Malam, Dongkrek Enggal Budoyo Desa Kare Lakukan Ritual Usir Pageblug

Kelompok kesenian Dongkrek Enggal Budoyo di Desa/Kecamatan Kare sedang melakukan ritual mengusir Pageblug.
Gemawilis -
Sudah selama tujuh malam bertutur-turut sejumlah warga di Desa/Kecamatan Kare Kabupaten Madiun melakukan ritual usir Pageblug dengan cara mengarak Dongkrek lengkap dengan topeng dan alat bunyi-bunyiannya mengelilingi perkampungan.

Ritual untuk mengusir Pageblug itu dilakukan oleh sekelompok warga yang tergabung dalam perkumpulan Seni Dongkrek Enggal Budoyo, Dukuh Blimbing RT 17/04, Desa Kare/Kacamata Kare Kabupaten Madiun.

Setiap malamnya, anggota Perkumpulan Dongkrek Enggal Budoyo melakukan arak-arakan dengan menggunakan 1 hingga 2 mobil. Kegiatan dimulai setiap tengah malam sekitar pukul 00.00 Wib hingga menjelang waktu subuh.

Ketua Dongkrek Enggal Budoyo, Bardi (56) saat ditemui mengatakan ide tersebut dilakukan anggotanya karena melihat pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai. Ia bercerita, dulu tradisi ritual seperti itu sudah biasa dilakukan oleh nenek moyang mereka atau orang-orang jaman dulu pada masanya untuk mengusir Pageblug (wabah penyakit).

"Dulu mbah-mbah kita memang seperti itu untuk mengusir Pageblug. Dan Ini kami lakukan tujuan sama agar pandemi ini juga segera berakhir, "turut Bardi. Rabu (21/7/2021).

Bardi menjelaskan, dalam kegiatan ini anggota yang terlibat tidak banyak. Satu mobil bak terbuka hanya diisi 4-5 orang dengan ketat protokol kesehatan. Apalagi kata dia waktunya tengah malam dan mobil tidak berhenti sehingga tidak ada kerumunan penonton. "Tetap kami lakukan protokol kesehatan, lagian yang terlibat anggota kita sendiri, "jelas dia.

Ia menjelaskan, awalnya mereka hanya melakukan disekitar tempat tinggalnya saja, namun berjalannya waktu banyak warga di RT yang lain juga meminta akhirnya Badi dan rombongan pun meng iya kan. Sementara biaya operasional untuk membeli bensin mereka dapat dari kas kelompok dan dari kas RT setempat.

"Operasional dari kas. Antusias warga baik, banyak yang minta untuk dilewati juga. Kata warga mereka juga merasa tenang karena tengah malam ada yang rutin patroli keliling kampung, "jelas Bardi.

Lebih lanjut kata Ketua Dongkrek Enggal Budoyo itu mereka juga sudah lama tidak berlatih semenjak adanya virus Covid-19 jadi kegiatan itu sekaligus untuk melemaskan otot-otot mereka.

"Sejak ada Covid-19 anggota sudah tidak berlatih. Semua vakum, berhenti latihan dan juga total berhenti dari job manggung, "pungkasnya.

Terlepas dari kegiatan warga diatas, menurut sejarah, ternyata di Indonesia juga pernah mengalami kejadian serupa (Pageblug) atau wabah penyakit menular, tepatnya tahun 1867. Saat itu kematian secara mendadak terjadi di banyak tempat, salah satunya di daerah Mejayan (sekarang Kecamatan Caruban)

Kepala Desa Mejayan yang waktu itu dijabat oleh Raden Ngabehi Lo Prawirodipuro, melihat banyak warganya yang mengalami kejadian yang tidak lazim. Yakni puluhan orang meninggal secara mendadak. Pagi sakit, sore meninggal. Sore sakit, pagi meninggal.

Menjadi orang yang bertanggung jawab atas keselamatan warga desanya, akhirnya Raden Ngabehi Lo Prawirodipuro merenungkan musibah pagebluk yang menyerang warganya itu dengan cara bertapa di gunung kidul Caruban.

Selama bersemedi, Raden Ngabehi Lo Prawirodipuro mendapat wangsit bahwa di wilayahnya telah dimasuki oleh makhluk halus yang bermaksud jahat.

Diceritakan dalam wangsit itu Raden Ngabehi Lo Prawirodipuro mendapatkan petunjuk untuk menciptakan sebuah tarian untuk mengiringi para punggawa roh jahat keluar dari Desa Mejayan.

Berdasarkan wangsit itulah akhirnya Raden Lo Prawirodipuro membuat sebuah kesenian tradisional berupa musik yang digabungkan dengan tarian yang kemudian hari dan hingga sekarang dikenal dengan nama Dongkrek. (Tjr/gw)

BERITA TERKAIT