Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Sunday, July 18, 2021

Berkah Pandemi, Sarjana Ekonomi Nekat Banting Setir Tanam Bawang Merah

Joko Nurdianto seorang Sarjana Ekonomi yang kini menekuni dunia pertanian di Desa Randualas Kecamatan Kare, Madiun.
Gemawilis -
Joko Nurdianto (23) merupakan salah satu petani muda yang optimistis dengan dunia pertanian. Warga Dusun Kayen RT. 19/05, Desa Randualas Kecamatan Kare Kabupaten Madiun ini mulai merintis dunia pertanian dan mengumpulkan pundi-pundi uang dari bertananam Bawang Merah.

Joko, sapaan akrabnya, merupakan lulusan Univeritas Negeri Islam (UIN) Solo, Fakultas Bisnis Islam, Ia berhasil menggeluti dunia cocok tanam bawang merah di lahan sawah miliknya setelah lulus pada 2020 tahun lalu.

Pemuda 23 tahun itu mengaku nekat banting setir lantaran pada masa pandemi Covid-19 ini susah untuk mencari pekerjaan.

"Dari dulu sebenarnya sudah senang dengan dunia pertanian, tapi saya sekolah tidak ambil jurusan itu. Namun setelah lulus karena masa pandemi ini juga sedang susah mencari pekerjaan apa salahnya mencoba hal lain. Ambil berkahnya saja, "tutur Joko, saat ditemui di lahan garapannya. Minggu (18/7/2021) sore.

Selama terjun di dunia pertanian dengan menanam bawang merah sejak pertengahan pandemi lalu di lahan seluas 1000 meter, hingga kini Joko sudah berhasil memanen sebanyak 4 kali tanaman bawang merahnya.

Ia mengaku selama 4 kali menanam bawang merah pada setiap panennya mendapatkan keuntungan yang cukup lumayan, bahkan kini untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, Joko menambah lahan garapan lagi dengan menyewa lahan milik orang yang letaknya berdampingan dengan miliknya.

"Lumayan, meski masih tahap belajar tapi dari pengalaman panen yang sebelumnya saya rasa tanam bawang merah cukup menjanjikan hasilnya karena hanya butuh waktu 2 bulan sudah bisa panen, "katanya.

Selain keuntungan yang ia didapat, dengan menanam bawang merah ini Joko juga bisa memberi pekerjaan warga di lingkungannya. Baik pada waktu tanam ataupun pada saat panen.

"Kalau pas tanam ada 8-10 orang yang saya pekerjaan untuk bantu di sawah. Tapi kalau pas panen di rumah ada 12 san orang. Bantu bersihin serabut sama jemur, "tambahnya.

Joko mengatakan dengan lahan seluas 1000 meter ia butuh sekitar 100 kilo gram bibit bawang merah (jarak tanam sedang). Dan hanya dengan waktu 2 bulan ia bisa memanen tanaman bawang merahnya dengan hasil sekitar 8-9 kuwintal.

Rata-rata dari yang sudah ia lakoni selama 4 kali tanam, setiap panen Joko bisa untung separuh dari modal awal bahkan lebih tergantung harga bawang merah di pasaran.

"Kendala tetap ada namanya pertanian, utama hama sama kabut. Makanya yang panen terakhir ini kurang maksimal karena kemarin sempat ada turun kabut di awal tanam. Tapi daripada tanam jenis yang lain saya suka ini (bawang merah -red), karena bisa panen cepat dan bisa untung dari separuh modal utama, "tutur Joko.

Joko memang tergolong berani dan nekat dengan keputusannya menanam bawang merah, sebab selama ini di daerah dia tinggal belum pernah ada petani yang nekat menanam bawang merah karena mayoritas petani setempat beranggapan jenis bawang merah kurang cocok dengan tanah dan cuaca di daerah Kecamatan Kare terutama desa Randualas.

Namun berkat tekat kuat dan keuletan yang dimilikinya, kini Joko mulai menuai hasilnya. Bahkan kini ia berniat ingin mengembangkan bercocok tanam bawang merahnya semakin luas sehingga bisa mendapat keuntungan yang lebih banyak dan dapat membuka lapangan kerja di dusunnya.

"Kerja itu apa saja gak usah malu, apa lagi jaman sekarang seperti ini. Saya rasa satu-satunya sektor yang tidak terdampak pada masa pandemi ini ya pertanian. Kita sebagai anak muda mesti berani berinovasi, bisa menciptakan lapangan kerja buat diri sendiri dan lingkungan. Jangan malu, "pungkasnya. (Tjr/gw)

BERITA TERKAIT