Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Tuesday, July 20, 2021

Babak Belur 3 Kali Diawal Terjun Tanam Semangka, Kini Yujiono Raup Cuan dari Panen yang Melimpah

Kebun Semangka Sehat Bahagia (KSSB) milik Yujiono, warga Desa Randualas Kecamatan Kare Madiun Kabupaten Madiun.
Gemawilis -
Menekuni dunia pertanian dibutuhkan ketelatenan dan keuletan tersendiri meski tidak memiliki keterampilan khusus dibidang tersebut. Sebab, mempunyai ilmu saja belum cukup untuk menjamin benih yang di tanam akan mendapatkan hasil yang melimpah. Selain itu juga butuh tekat, kemauan, semangat, dan kunci utamanya adalah pengalaman.

Hal tersebut seperti kisah yang pernah di lakoni oleh Yujiono (30) warga RT 09/03 Dusun Dawung, Desa Randualas, Kecamatan Kare Kabupaten Madiun yang pernah jatuh bangun diawal ia terjun ke dunia cocok tanam buah semangka.

Yujiono saat ditemui di Kebun Semangka Sehat Bahagia (KSSB) miliknya bercerita jika pada awal terjun menanam semangka sempat babak belur alis merugi selama 3 kali karena belum terlalu menguasai ilmu tentang berkebun semangka.

Namun demikian karena sudah berniat ingin merubah perekonomian keluarganya dan melihat peluang yang menjanjikan sekaligus ingin mengangkat potensi desanya, akhirnya dari pengalaman merugi selama 3 musim itu dia jadikan sebagai pemicu dirinya untuk berkembang semakin baik.

Yujiono bercerita selain melihat peluang yang menjanjikan dari berkebun semangka, dia juga bercerita jika dirinya pernah mengalami masa sulit, yakni pernah mengalami kelumpuhan pada kakinya pada saat menjadi buruh serabutan beberapa tahun lalu. Dari pengalaman pahit itulah akhirnya bapak dari satu anak ini berniat mandiri membuka lapangan kerja buat keluarganya.

"Wah, pahit mas di awal terjun di dunia semangka. Selama 3 kali panen saya rugi berturut-turut. Ini saya sudah tanam yang ke 7 kali dan Alhamdulillah sudah mulai ada hasilnya meski belum seberapa, "tutur Yujiano kepada wartawan Gemawilis. Minggu (18/7/2021) siang.

Saat ini, pria yang akrab disapa Jobir di lingkungannya itu sudah panen semangka sebanyak 7 kali di lahan seluas kurang lebih sekitar setengah hektar. Separuh miliknya sendiri dan sebagian lagi dari dia menyewa milik tetangganya.

Dalam setiap musim penanaman kata dia modal yang dibutuhkan kurang lebih sekitar 20-25 juta, dengan benih tanam sebanyak 2000 bibit semangka. Setelah selama 80 hari semangka baru akan bisa di panen dengan hasil sekitar 1 ton setengah. Rata-rata satu buah semangka menghasilkan berat sekitar 3-8 kilo gram. Jobir mengaku rata-rata pada setiap panen ia bisa mengantongi untung sekitar 6-7 juta. "Sekitar 6-7 juta setiap panen, "katanya.

Sementara untuk berkebun dari awal hingga panen Jobir dibantu oleh sang istri, Luki. Uniknya, Jobir dalam menjual hasil semangkanya tidak di jual keluar tetapi dia memilih untuk setiap masa panen menjual dengan sistem konsumen datang sendiri di kebunnya untuk memetik sendiri, atau dibuatnya semacam Agrowisata petik buah semangka.

Jobir, mengatakan sistem petik di kebun setiap panen sudah menjadi keinginannya sejak awal menanam semangka. Karena ia punya niat ingin mengangkat potensi desannya dengan membuat Agrowisata. Namun karena pandemi Covid-19 keinginannya itu terbengkalai.

Meski menjualnya dengan konsep Agrowisata, namun Jobir menjual per kilo semangkanya juga tidak mahal seperti di luaran pada umumnya. Karena meski di luar harganya sedang tinggi, Jobir setabil menjual semangkanya dengan harga tetap, yakni 5 ribu per kilo gram.

"Saya jual per kilo hanya 5 ribu. Di luar saat ini harga kalau gak salah 8 ribu, tapi saya tetap jual segitu karena yang beli juga masyarakatnya sendiri. Untung dikit-dikit gak papa yang penting bisa berkembang dan bisa mengangkat lingkungan saya nantinya, "tutur Jobir.

Tak hanya masyarakat sekitar yang datang untuk membeli semangka ke lokasi kebun milik Jobir, namun beberapa warga juga ada yang datang dari luar desa dan Kecamatan.

Lebih lanjut Jobir bercerita menjelang masa panen kali ini dirinya sempat meragu akan buah semangkanya karena adanya PPKM Darurat terkait Covid-19. Ia takut dengan pembatasan yang saat ini diberlakukan sehingga tidak ada pengunjung yang datang. Oleh karena itu, ia juga menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat pada pengunjung yang datang.

"Kemarin di awal ragu gak ada yang datang karena PPKM, tapi Alhamdulillah masih ada yang datang tapi warga yang dekat sekitar sini saja. Tapi saya tetap menyuruh warga yang datang harus protokol kesehatan terutama harus wajib pakai masker dan jaga jarak, "jelasnya.

Kini Yujiono mengatakan sudah nyaman dengan pekerjaannya meski sempat jatuh bangun diawal-awal. Dengan pengalamannya kedepan ia berkeinginan untuk menambah fasilitas di kebunnya seperti dengan mendirikan beberapa gasebo (gubuk) yang agak baik dari yang sekarang untuk pengunjung supaya lebih nyaman setiap panen tiba.

Perlu diketahui, meski harga semangka di kebun KSSB lebih murah dari harga di luaran pada umumnya, namun menurut sang pemilik benih yang di tanamnya merupakan jenis bibit semangka kualitas unggul sehingga rasanya lebih manis, lebih gurih, dan lebih lezat.

Selain itu, semangat Yujiono memamg patut diacungi jempol, pasalnya saat ini masa depan pertanian di Indonesia terancam dengan semakin berkurangnya minat generasi muda untuk terjun di bidang pertanian. Padahal dunia pertanian dimasa seperti ini, pandemi Covid-19, menjadi satu-satunya sektor yang tidak terlalu terdampak sehingga dapat menopang ketahanan pangan di negeri ini. (TJR/gw)

BERITA TERKAIT