Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Friday, June 04, 2021

Tradisi Unik Perguruan Silat di Madiun Berperan Dalam Geliat Perekonomian

Gambar ilustrasi (fot: pixabay)
Gemawilis -
Mengulas tentang Madiun kurang lengkap rasanya jika tidak mengintip tradisi perguruan silat atau organisasi pencak silat yang ada didalamnya. Karena Silat, di tanah Madiun sudah menjadi sebuah budaya.

Seperti kita ketahui bersama, selain terkenal dengan kulinernya Nasi Pecel dan Brem, Madiun juga merupakan gudangnya pendekar karena banyaknya organisasi perguruan silat yang ada. Kurang lebih ada sekitar 14 perguruan silat.

Oleh karena itu, Madiun dikenal dengan sebutan Kampung Pesilat (untuk Kabupaten) dan Kota Pendekar untuk wilyah Kota Madiun.

Nah, dalam suatu organisasi atau perkumpulan didalam wadah pencak silat yang ada di Madiun. Ada satu tradisi unik yang sangat menarik. Bahkan dengan adanya tradisi ini ada masyarakat yang diuntungkan, yakni para peternak Ayam Jago.

Sudah bukan rahasia umum, setiap bulan Suro (Muharram) datang, ada sebagian perguruan silat yang mempunyai tradisi dalam mengesahkan anak didiknya menjadi warga sah harus diwajibkan untuk menyembelih Ayam Jago. Dalam agama Islam istilahnya tersebut bisa dimaknai "Berkurban". Namun penjabaranya tidak sesimpel itu, karena hanya para anggota perguruan silat itulah yang mengetahui secara detailnya. Namun itulah salah satu gambaran sederhananya.

Ayam yang digunakan saat acara pengesahan umumnya merupakan ayam jago, bisa jenis ayam Jawa atau bisa dengan ayam terbaik jenis lainnya, Bangkok misalnya. Ayam Jago yang disembelih itu nantinya akan di buat semacam Ingkung (red- panggang) dan nantinya untuk acara selamatan seperti halnya acara Genduri dalam adat jawa pada umumnya.

Tradisi tersebutlah yang setiap menjelang bulan Suro menjadi berkah para peternak ayam, khusunya jenis Bangkok. Karena semakin baik ayamnya maka akan semakin berkualitas atau bisa dikatakan semakin sempurna dalam proses pengesahannya. Jenis Bangkok diyakini menjadi jenis terbaik selama ini, dan jadi pilihan utama.

Harga ayam Bangkok yang normalnya di harga sekitar 150 hingga 200 ribu, jika menjelang bulan Suro bisa naik hingga diharga 350 ribu bahkan bisa lebih tergantung kesepakatan.

Harga tersebut memang bisa dikatakan sangatlah wajar, karena permintaan pembeli yang memilih ayam dengan kualitas terbaik tanpa cacat sedikitpun mulai dari telapak kaki hingga ujung kepala.

Ada lagi versi yang lain, calon warga harus menggunakan ayam dengan spesifikasi warna yang putih mulus tanpa ciri badan sedikit pun meski tujuan dan kegunaan hampir sama, yakni berukurban.

Alasan mengunakan warna putih mulus melambangkan kesucian dan kebersihan yang nantinya akan menjadi pedoman calon anggota warga. Maka ayam jago berwarna putih mulus pun saat bulan Suro harganya juga iku melambung.

Tidak tanggung-tanggung harga terendah yang dipatok para peternak ayam putih mulus berkisar di angka 300 ribu keatas. Berbanding terbalik dengan harga yang normalnya 150 hingga 200 ribu per ekor.

Berkah tahunan para peternak ayam ini terus berkesinambungan hingga tahun-tahun selanjutnya pasalnya tradisi organisasi dan perguruan tersebut telah turun temurun semenjak para sesepuh mereka menganjurkannya.

Sehingga, selain kepentingan pribadi, organisasi maupun kelompok, tradisi unik perguruan silat yang ada di Madiun juga telah ikut menyumbang peran yang sangat baik dalam geliat perekonomian di masyarakat. (Ds/gw)