Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About

Sunday, June 20, 2021

Sempat Disebut Makanan Ular, Kini Porang Menjelma Bagai Tanaman Emas, Lalu Apa Itu Porang?

Gambar Spora bunga porang yang dulu sebelum booming dianggap sebagai makanan ular (fot: istimewa).
Gemawilis -
Kurun waktu 3 tahun terakhir menjadi bahan pembicaraan banyak orang hingga bahkan banyak orang awam yang mencari tahu tentang tanaman yang sedang naik daun ini.

Porang atau Amorphophallus Muelleri awalnya merupakan tumbuhan liar yang ditemukan di dalam hutan kini telah menjadi primadona salah satu komoditas ekspor unggulan yang laris di berbagai negara seperti Tiongkok, Thailand, Jepang, Vietnam dan sekarang Negara dari Benua Biru mulai melirik berbagai hasil dari olahan umbi Porang.

Pada semester I/2020, ekspor porang mencapai 362 ton dengan nilai barang Rp 7,2 miliar rupiah dan diperkirakan merangkak naik dengan tingginya permintaan pasar dunia.

Sempat terabaikan akan keberadaannya diladang perkebunan yang mana dulunya banyak ditumpas karena mengganggu pertumbuhan tanaman induk. Bahkan banyak orang mengatakan bahwa bunga spora dari Porang merupakan makanan Ular (selain umbi Porang dan katak atau bulbil, bunga Porang atau yang disebut Spora jika sudah tua/dorman dapat juga dijadikan untuk bibit dalam berbudidaya porang)

Kini nasib tanaman ini berubah 180 derajat, sekarang banyak petani berlomba-lomba membudidayakan tanaman ini. Dan banyak petani menaruh harapan besar pada tanaman ini.

Tanaman Porang diambil hasil dari umbi yang diolah dalam bentuk chip yang kemudian diolah menjadi tepung untuk kebutuhan industri seperti kosmetik, pengental, lem, mie ramen dan campuran olahan makanan lainya.

Porang dapat dibudidayakan atau ditanam di dataran rendah maupun dataran tinggi. Dengan memerlukan perawatan yang tidak terlalu rumit, Porang dapat bertahan hidup dengan pengairan yang minim atau tidak memerlukan banyak air.

Tanaman ini juga sangat cocok untuk perkebunan dengan metode tumpang sari karena Porang dapat tumbuh subur dengan naungan hingga 60 persen dan Porang dapat tumbuh dengan maksimal apabila mendapat pancaran sinar matahari langsung.

Bibit Porang sendiri dihasilkan dari bunga Spora dan dari bubil atau biji katak. Dengan hasil pertumbuhan umbi yang bisa dikatakan baik jika usia tanaman tersebut lebih dari satu tahun.

Meskipun memerlukan jangka waktu yang lumayan lama budidaya tanaman Porang banyak diminati para petani karena harga dan potensi yang memungkinkan naiknya permintaan setiap tahunnya.

Di wilayah Kabupaten Madiun saja, kini porang sudah hampir ditanam oleh semua masyarakat terutama warga yang berdomisili di wilayah pinggiran, umumnya porang ditanam di lahan-lahan tepi hutan.

Sejak dikembangkan atau dikenal lebih luas oleh masyarakat di Kabupaten Madiun sekitar tahun 2018 silam, luasan lahan budidaya porang di Kabupaten Madiun mencapai hampir 6.000 hektar dari sebelumnya yang cuma 500 hektar. Alasannya, karena porang terbukti membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

Dari sisi kualitas, umbi porang asal Madiun pun terkenal jempolan dan menjadi komoditas ekspor unggulan atau yang dikenal dengan varietas unggul Madiun1.

Sesuai data, lahan porang di Kabupaten Madiun pada tahun 2020 sudah mencapai 5.263 hektare. Di tahun ini, 2021, target lahan porang akan diperluas dengan menambahkan luasan lahan tanam sampai 800 hektare.

Bahkan saat ini Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Pemprov Jatim, sudah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) untuk melarang ekspor katak (bibit porang) di seluruh Jawa Timur.

Hal tersebut dikatakan Khofifah saat dirinya mengunjungi kegiatan panen raya porang bersama Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, pada Kamis (17/6/2021) lalu.

"Saat ini banyak negara yang beriklim tropis ikut berburu bibit porang. Saya mohon Pak Bupati menjaga petani porang, menjaga agar katak porang tidak diekspor. Ini sesuai dengan SK Gubernur kita melarang katak untuk diekspor. Katak porang ini hanya untuk dibudidayakan di dalam negeri, "ujar Khofifah.

Senada dengan Khofifah, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo juga menyampaikan larangan ekspor umbi porang. Ia meminta ekspor porang sudah dalam bentuk chips (olahan). Selain itu, larangan ekspor umbi porang, juga permintaan Presiden Joko Widodo.

"Presiden minta hilirisasi umbi tidak dijual di luar, karena orang lain dapat lebih besar dari kita. Dibawa ke luar sudah bentuk chips saja, "kata Mentan Syahrul Yasin Limpo. (Ds/Tim/gw)

Rekomendasi