Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
 

Wednesday, June 9, 2021

Pak Kadir Tunggak Jati Barokah, Seniman Asal Madiun yang Kerajinan Ukirnya Tembus Hingga Pasar Eropa

Gemawilis -
Bukan rahasia lagi, selama ini Jepara memang dikenal sebagai pusat kerajinan ukiran kayu yang kesohor hingga mancanegara. Namun siapa sangka, ternyata di Kabupaten Madiun juga ada seorang seniman yang punya kepiawaian tak kalah hebat, bahkan reputasinya dan karya-karyanya telah tersebar hingga ke Eropa.

Akar kayu atau masyarakat Madiun mengenalnya dengan nama Tunggak, biasanya hanya berakhir di tungku perapian. Namun di tangan Pak Kadir (61) warga RT 18/05 Dusun Kronggahan, Desa/Kecamatan Mejayan ini, akar kayu bisa disulap menjadi karya ukir yang bernilai tinggi.

Darah seni yang dimiliki Pak Kadir patut diacungi jempol, pasalnya kelihaiannya dalam mengukir akar kayu hanya dia dapat secara otodidak. Namun demikian karya yang ia hasilkan benar-benar kelas dunia, pantas jika dia bercerita kalau hasil ukirnya digemari oleh orang-orang luar negeri.

Kerajinan ukiran yang dibuat oleh Pak Kadir memang bukan suvenir sembarangan. Proses pembuatannya pun berkisar antara 1-4 bulan, melalui beberapa tahapan dengan tingkat kematangan yang sangat detail agar hasilnya bisa memuaskan para konsumen. Rancangan dan detail ukirannya terlihat rapi, jenis bahan baku yang ia pilih juga berkualitas tinggi. Tak heran jika harga jualnya pun dapat menembus belasan dan bahkan puluhan juta.

Ditemui di tempatnya beraktifitas, Tunggak Jati Barokah, sekaligus tempat tinggalnya, Pak Kadir bercerita, awal ia menggeluti dunia seni ukir sejak tahun 1997, saat itu menurutnya di Madiun belum ada pengrajin akar kayu untuk dijadikan sebuah kerajinan ukiran.

"Dulu waktu saya awal mengukir tahun 97, di Madiun belum ada pengukir. Sebelum saya memang ada, ukir bento model apstrak, tapi tidak berlanjut. Akhirnya tempatnya saya tempati di daerah Saradan sana, "tuturnya. Rabu (9/6/2021) siang.

Disinggung soal harga, Pak Kadir mengatakan harga jual tergantung model dan tingkat kesulitannya. "Biasanya harga melihat detail ornamen yang ada dalam tiap ukiran, setiap ukiran atau patung emiliki tingkat kerumitan tersendiri sehingga mempengaruhi harga jualnya, "jelas Pak Kadir.

Selain itu, dalam pembuatannya pun Pak Kadir selalu memilih jenis bahan kayu yang berkualitas sebagai upaya peningkatan kualitas produk yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen. Menurutnya bahan berpengaruh terhadap nilai setiap patung dalam jangka waktu yang panjang. Jenis kayu yang paling umum digunakan adalah kayu jati.

Sementara untuk lamanya proses pengerjaan bergantung pada besarnya patung atau pahatan yang dibuat, jenis kayu, dan banyaknya detail ukiran dalam patung atau ukiran yang dibuat.

"Kalau saya lebih memilih akar jati, tapi ada juga konsumen yang membawa kayunya sendiri. Jadi kami mengikuti saja. Macam-macam, ada yang bawa mahoni, sengon, mangga dan lain-lain, "terangnya.

Dulu bisnis jauh lebih baik, lanjutnya, Asia dan Eropa adalah pasar terbesar saya. Sering dibawa ke Jepang, Korea, Amerika dan negara luar lainnya. Tapi untuk beberapa tahun terakhir ini pemesan kebanyakan dari luar luar daerah saja, "ungkapnya.

Pak Kadir mengaku bisa mengerjakan semua model pesanan baik berupa patung, ukiran mebel, kaligrafi, relief, ataupun jenis produk ukiran lainya. "Saya punya prinsip, jangan takut berkarya, pasti bisa dijual karena kerajinan ukir memiliki rentang pasar yang luar biasa lebar.

Saat ini Pak Kadir sedang mengerjakan pesanan patung ukir Rajawali, pesanan salah satu kolektor asal Ibukota dan beberapa pesanan konsumen luar daerah lainnya. Jika pesanan banyak, biasanya ia dibantu temannya sesama pengukir Pak Pamuji (54) warga setempat.

Besar harapan dari beliau berdua kedepan mempunyai tempat yang lebih strategis untuk mengembangkan usaha ukirnya. Karena tempat yang saat ini ditempatinya untuk membuat kerajinan ukir menurutnya masih kurang strategis. Jika tempatnya mengukir berada di tempat yang tepat, maka akan semakin menarik perhatian masyarakat sehingga bisa meningkatkan omset pendapatannya.

"Sebenarnya kami butuh tempat yang cocok untuk pasar seperti ini (kerajinan ukir), paling tidak di Jalur Protokol. Sehingga semakin banyak masyarakat khususnya kaum milenial yang tertarik untuk belajar mengukir. Karena generasi sekarang ini minatnya kurang, padahal dunia ukir ini bisa menyerap banyak tenaga, "pungkas Pak Pamuji. (AL/TJ/gw)

Topik Lain