Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Wednesday, March 24, 2021

Porang Kedepan Masih Akan Memberi Prospek yang Bagus, Benarkah? Begini Kata Profesor Dahlan Iskan

Porang kini menjadi tanaman primadona karena umbi dan bijinya bernilai jual tinggi.
Gemawilis -
Perkembangan budidaya tanaman porang terus mengalami peningkatan begitu pesat. Disemua belahan nusantara bahkan beberapa negara Asia dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, porang semakin diburu untuk dikembangkan di berbagai daerah. Sehingga tak heran jika banyak yang bertanya akankah harga porang terus memiliki nilai jual tinggi?

Tidak hanya dalam disegi pertaniannya saja yang meningkat pesat, namun kini beberapa pabrik pengolahan tepung porang pun sudah mulai dibangun di berbagai daerah. Baca: Daftar Pabrik Penepungan Porang Terbaru 2021 Terbesar di Indonesia.

Baru-baru ini dalam aacara webinar yang diadakan pada Rabu (10/3/2021) tentang “Perlukah Jaringan Kultur Untuk Saaat Ini” Profesor Doktor Dahlan Iskan menyampaikan pandangannya terkait prospek tanaman porang untuk kedepan.

Selain menghadirkan pembicara Mantan Menteri BUMN Profesor Doktor Dahlan Iskan, webinar yang diadakan oleh perusahaan pertanian atau Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Day Genetik Pertanian (BB Biogen) itu juga menghadirkan narasumber lain, diantaranya DR Ika Roostika Tambunan sebagai peneliti utama BB-Biogen dan Biotan, Abey Ridwan sebagai pakar Porang sekaligus Dirut Kebula Raya Bestari dan Bambang Wijonarko Ketua Umum PP Jaringan Saudagar Muhamadyah.

Dahlan Iskan yang kini menjadi Dewan Pertimbangan Perkumpulan Petani Porang Nusantara, mengatakan sampai 5 tahun ke depan pertanian porang masih akan memberikan prospek yang cukup bagus.

“Sampai 5 tahun ke depan porang masih memberikan prospek yang bagus. Setelah kultur jaringan dimulai akan ada keseimbangan harga benih baru yang kini harganya tinggi. Saya pesankan adalah agar koperasi bisa mencari solusi terhadap system ijon, karena petani porang yang tak memiliki uang akan menjual porangnya dengan murah karena porang perlu waktu yang cukup lama sampai panen, "ungkap Dahlan Iskan.

Sementara itu, DR. Ika Roostika Tambunan sebagai pembicara pertama mengatakan pihaknya telah melakukan kultur jaringan porang sejak 2019 dengan menggunakan benih indukan yang diambil dari Madiun.

“Kami mulai melakukan pembuatan kultur jaringan porang sejak 2019 dengan menggunakan porang dari Madiun. Kultur jaringan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi bibit porang. Bisa jutaan dalam sekali produksi yang akan melibatkan mitra atau perusahaan yang akan melakukan itu. Porang kultur jaringan juga lebih tahan terhadap penyakit, bisa ditanam tanpa mengenal musim dan lebih cepat besar, "jelas DR. Ika Roostika Tambunan. (Np/tim)

BERITA TERKAIT