Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
 

Tuesday, March 23, 2021

Pernah Jadi Identitas Disetiap Rumah Warga, Tanaman dan Tikar Mendong Sekarang Menghilang

Gemawilis -
Sekitar tahun 90an dan sebelumnya, tikar Mendong masih sering di jumpai di wilayah pedesaan, baik berupa bahan bakunya yakni tanaman mendong maupun para pengrajinnya sendiri. Karena umumnya tanaman mendong dan pengrajin tikar mendong berada di daerah pedesaan.

Di beberapa wilayah seperti di Kabupaten Madiun tanaman dan tikar mendong pada tahun-tahun itu mudah dan sering di jumpai misalnya seperti di daerah Kecamatan Kare, Gemarang, Saradan, Dagangan dan sebagian wilayah lainnya. Namun sekitar tahun 2000 an, tanaman atau tikar mendong sudah mulai hilang diperedaran bahkan bisa dikatakan punah di wilayah Kabupaten Madiun.

Dulu, hampir disetiap rumah warga di desa-desa selalu ada tikar mendong dengan ciri khas warnanya yang unik. Hijau, biru, kuning, merah, dan ungu. Sedangkan bahan zat pewarna biasanya menggunakan pewarna kain orang jaman dulu menyebutnya Sumbo. Bahkan pada jaman itu tikar mendong bisa dikatakan menjadi identitas warga masyarakat pedesaan. Setiap ada tamu atau sedang mengadakan hajatan, mereka selalu menggelar tikar mendong.

Tikar mendong sendiri terbuat dengan cara dianyam dari daun mendong. Penganyamannnya pun umumnya dilakukan oleh kaum perempuan yang sudah lanjut usia dengan kemampuan khusus dan tidak semua orang bisa.

Bagi kaum milenial atau generasi sekarang, mungkin sebagian ada yang belum tau apa itu tanaman mendong. Karena seperti kita ketahui bersama hampir di wilayah Kabupaten Madiun tanaman mendong pada era ini sudah tidak lagi diminati untuk di tanam.

Tanaman mendong yang nama latinnya Fimbristylis Globulosa adalah salah satu tumbuhan yang hidup dirawa atau daerah yang berlumpur dan memiliki air yang cukup. Mendong masuk kategori jenis tanaman rumput dan tumbuh dengan panjang kurang lebih 100cm. Tanaman ini bisa juga disebut purun tikus dan termasuk anggota suku Cyperaceae.

Mendong tumbuh seperti padi, jadi merawat mendong layaknya seperti merawat padi. Mendong akan bisa dipanen setelah ditanam selama enam bulan. Selanjutnya mendong bisa dilakukan panen kembali setelah tiga bulan berikutnya. Karena tanaman ini setelah di babat (panen -red) akan tumbuh tunas yang baru. Jadi sekali tanam berkali-kali bisa dipanen.

Selain unik, sebagai bahan baku seperti pembuatan bahan dasar tas, topi, dan tikar, kerajinan dari bahan mendong juga ramah lingkungan karena mudah terurai. Para pakar kesehatan pun percaya, menggunakan tikar mendong lebih baik untuk kesehatan daripada menggunakan tikar plastik. (Tim/gw)

Topik Lain