Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About

26 March 2021

Gunung Kukusan dan Jalur Memukau Punggung Naga

Penampakan gunung dan punggung naga jalur ke puncak kukusan, pemandangan indah memukau (fot: istimewa).
GEMAWILIS | MADIUN -
Kecil dan mengerucut, dilihat dari jauh tampak runcing pada ujungnya. Itulah ciri khas dan keunikan Gunung Kukusan yang terletak tak jauh dari Desa Bodag, Kecamatan Kare Kabupaten Madiun.

Dibanding dengan penampakan gunung-gunung yang ada di deretannya, kukusan memang tampak terlihat lebih kecil pun tidak menjulang, karena itu kukusan sering dijadikan tujuan pertama oleh para pendaki pemula di Kabupaten Madiun dan sekitarnya.

Medan jalan menuju ke puncak kukusan memang tidaklah terlalu sulit, terbukti para pendaki sering naik dan turun dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan sebagian warga setempat yang tinggal di kawasan terdekat seperti desa Kepel, desa Bolo, desa Bodag sudah terbiasa naik ke puncak kukusan.

Kira-kira jarak tempuh menuju ke puncak kukusan akan menghabiskan waktu kurang lebih sekitar 3 hingga 4 jam. Bahkan bagi yang sudah terbiasa naik ke kukusan ada yang hanya butuh waktu cukup 2 jam saja untuk sampai ke puncaknya.

Jalan menuju puncak kukusan bisa dimulai dari dusun Kagok atau bisa juga dari wisata Selo Gedong yang berada di Desa Bodag, Kecamatan Kare Kabupaten Madiun.

Jalur menuju puncak kukusan dari bawah atau dari pos pertama baik dari dusun Kagok maupun dari wisata Selo Gedong tidak terlalu sulit. Artinya tidak ada tanjakan yang terlalu tinggi apalagi sampai menguras tenaga.

Sebelum menggapai puncak kukusan pendaki harus menerobos hutan rimba milik Perhutani kawasan BKPH Wilis Utara dengan medan tanah hitam dibawah pepohonan pinus dan sebagian hutan lindung. Disini udaranya cukup sejuk, pepohonan pinus sesekali diterpa angin semakin menambah suasana rileks.

Namun, sekitar 500 meter sebelum sampai puncak kukusan pendaki harus melewati setidaknya tiga punggung naga. Trek tiga punggung naga yang berada di kukusan ini tidak terlalu panjang, namun satu diantaranya mempunyai ketajaman yang cukup curam, medan bebatuan menambah ke ekstriman jalan menuju puncak.

Dari punggung naga inilah pertama kali keindahan alam hutan tropis akan bisa dinikmati sebelum nanti keindahan puncaknya akan menjadi keindahan pamungkas. Dari sini pendaki bisa melihat beberapa bagian gunung lainnya yang ada disebelah kukusan.

Selain itu, hamparan hutan tropis yang ada dibagian bawah juga akan terpampang sangat jelas. Jika beruntung dan cuaca cerah, pandangan kita juga akan mampu menembus hingga ke bawah jauh, beberapa pemukiman warga bahkan kota Madiun akan nampak samar-samar kelihatan. Namun tetap waspada, angin kencang kadang bisa tiba-tiba datang bersama kabut tebal.

Setelah bersusah payah melewati punggung naga, maka saatnya pendaki menikmati puncak kukusan. Disinilah di puncak kukusan semua akan terbayar lubas. Pemandang yang indah bisa dinikmati sepuasnya.

Kukusan mempunyai kemiringan lebih dari 70 derajat. luas puncaknya berukuran sekitar 3x3 meter, dengan ketinggian 1425 mdpl. Kukusan dikelilingi hutan tropis yang masih perawan dan ekosistem yang sampai saat ini lumayan masih terjaga dengan baik.

Selain pemandangan yang sangat menakjubkan, gunung kukusan juga ditumbuhi bunga edelweis. Namun karena kurang kesadaran dari beberapa pendaki, keberadaan bunga edelweis kian hari kian berkurang karena sering dipetik dan dibawa pulang oleh para pendaki nakal.

Menurut cerita dari dunia pewayangan, konon, dahulu gunung kukusan adalah bagian dari Puncak Gunung Lawu yang berada di Magetan (Sarangan) yang mempunyai ketinggian 3265 mdpl.

Dalam cerita pewayangan mengisahkan, tokoh Hanoman kala itu sedang bertarung dengan Rahwana (rawono) dalam merebutkan Dewi Shinta. Dengan kesaktian Hanoman, puncak gunung lawu ditendang hingga terlepas. Dengan menebarkan batu-batu besar serpihannya kemudian jatuh tak jauh dari puncak kukusan.

Dari serpihan bebatuan yang terlempar itu oleh penduduk sekitar dikaitkan dengan dan ke asliannya dari gunung lawu, yang saat ini di sebut dengan selo gedong. Adanya batu purba raksasa di selo gedong diyakini adalah bagian serpihan puncak lawu yang terlempar ke gunung kukusan. (rr/red/gw