Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Tuesday, February 09, 2021

Urgensi Aktivis Psikolog-Spiritualis Ditengah One Gate System dan Pandemi

Gemawilis/Opini -
Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jilid-II di Kabupaten Madiun menuai ragam respon dan reaksi dari masyarakat.  Ketentuan tersebut sebagaimana tertuang dalam surat Bupati Kabupaten Madiun nomor: 130/48/402.011/2021, kemudian ditindak lanjuti dengan surat dengan nomor: 130/14/402.001/2021, bersifat penting perihal “Pengendalian Mobilitas Warga di Masa Pemberlakuan PPKM Covid-19 di Kabupaten Madiun, yang berisi: mengoptimalkan peran Posko Satgas Covid-19 Desa/Kelurahan, Menerapkan sistem one gate system bagi akses keluar masuk warga, terakhir melakukan pemantauan dan pencatatan terhadap warga daerah lain yang memasuki wilayah desa/kelurahan melalui covid.madiunkab.go.id.


Respon dan reaksi warga baik dalam bentuk protes di media sosial atau gremang-gremeng (mengeluh) tentang efektifitas kebijakan tersebut sangatlah beragam. Rerata respon tersebut mengarah kepada trauma, kecemasan, dan ketidakpastian yang tak berujung. Secara psikologis dapat dimaklumi. Mengingat, kondisi pandemi kali ini benar-benar menyita banyak emosi, pikiran, dan tenaga, akibat ketidakpastian masa depan efek dari pandemi pada segala aspek kehidupan.

Selain itu, proses pembatasan yang terus menerus dilakukan, di saat bersamaan kasus positif terus naik, laju korban meninggal menunjukkan grafik yang tidak bersahabat. Belum lagi tanggung jawab berkehidupan yang terus berlangsung, dan tidak mau kompromi. Kondisi ini diperparah dengan tekanan-tekanan dari pemerintah bersifat penuh ancaman, overconfidence, bias optimis, dan terlampau heuristik. Kondisi tersebut telah banyak diulas oleh berbagai lembaga riset dunia tentang dampak pademi abad 21 ini terhadap kesehatan mental, sebut saja Steven Tylor (2019), dalam The Psycology Of Pandemics: Preparing for the next Global Outbreak of Infectious Desease.

Tylor berpendapat, bahwa pandemi mempengaruhi psikologis orang secara luas dan massif. Mulai dari cara berfikir memahami informasi tentang sehat dan sakit, perubahan emosi (takut, khawatir, cemas) dan perilaku sosial (menghindar, stigmatisasi, perilaku sehat). Selain itu juga menimbulkan prasangka, dan diskriminasi outgroup, yang berpotensi menyulut kebencian dan konflik sosial. Bahkan, lanjut Tylor, akan lahir sekitar 10 hingga 15% orang yang tidak akan kembali normal secara mental seperti sedia kala melebihi pandemi itu sendiri. Kondisi psikis masyarakat sudah barang tentu tidak boleh luput dari perhatian pemerintah, sehubungan dengan penerapan one gate system (selanjutnya disingkat: OGS) di kawasan Madiun Raya.

Ngono Yo Ngono, Ning Ojo Ngono

Sehubungan dengan bergam sanksi sebagai langkah pendukung efektivitas dan efesiensi OGS sebagaimana yang beredar di media sosial, baik berupa denda, pencopotan kades misal tidak optimal dst, patut disayangkan (jika itu benar). Sebagaimana telah dikemukakan di atas, kondisi saat ini merupakan kondisi yang tidak ada yang menginginkan, dan tidak ada terbesit keinginan masyarakat kecil (red: sipil) untuk menolak atau bahkan menentang kebijakan pemerintah yang beriktikad baik demi kepentingan bersama, yakni mencegah kerusakan atau madharat (dar’ul mafasid/daf’ut dharar) karena virus global ini. Alangkah baiknya, pemerintah lebih proporsional dan multiperspektif nun bijak dalam upaya mewujudkan kemaslahatan bersama (mashlahah ‘amah).

Masyarakat Madiun Raya adalah masyarakat yang besar dari kebudayaan Jawa, hampir 100% memeluk agama Islam yang rahmatal lil alamin. Kultur serta nilai luhur Jawa dan Islam membentuk penalaran masyarakat Madiun Raya secara umum. Itu artinya, kesadaran Hamemayu Hayuning Bawana dan Hamemayu Hayuning Sasama adalan tabiat alamiah masyarakat kita dari dulu hingga hari ini. Selain itu, kesadaran kosmik hubungan pemerintah dan rakyat adalah sebagai hubungan yang saling melengkapi tidak perlu diragukan lagi. Bila berhadapan dengan orang atau kelompok masyarakat yang kontra tidak perlu dikhawatirkan sebagai sebuah bentuk provokasi atau konspirasi, itu sangat berlebihan.

Penulis ingin menekankan, bila masyarakat berpatisipasi, meski dalam bentuk kontra, justru itu merupakan bentuk kepedulian, perhatian dan kecintaan masyarakat kepada pimpinan. Karenannya, masyarakat tidak perlu lagi dijejali lagi hal-hal yang membuat mereka muak dan putus asa. Jikalau hal tersebut urgen, sebaiknya dikemukakan dengan komunikasi yang mengedepankan asas kearifan lokal dan santun, tidak perlu saling ancam dengan perangkat (chanel) yang disediakan oleh kemajuan teknologi saat ini.

Kontribusi Aktivis Psikolog-Spiritualis Ditengah OSG dan Pandemi

Selanjutnya, keterlibatan para tokoh spiritualis, psikolog dan aktivis peduli kesehatan mental perlu diberikan ruang lebih luas. Senafas dengan itu, intelektual muslim abad 9-10 M, Abu Zaid Ahmad ibn Ahmad al-Balkhi, dalam kitabnya, Masholihul Abdan Wa Al-Anfus, mengenai kemaslahatan tubuh (fisik) dan psikis (jiwa), mengingatkan keseimbangan pengobatan fisik sekaligus psikis. Kepedulian pada kesehatan mental ini merupakan bentuk usaha membangun optimisme di tengah situasi pandemi yang tidak diketahui kapan akan berakhir. Sementara pengobatan fisik seperti vaksin, masyarakat sipil juga mendapat giliran paling akhir, itu pun ke depan belum tahu masih digratiskan kah sesuai arahan presiden beberapa bulan lalu, atau bayar sendiri karena situasi ke depan juga belum jelas.

Sisi lain yang kita patut syukuri adalah Madiun merupakan bagian dari Indonesia, dan Indonesia bagian dari bangsa Asia, yang dikenal sebagai manusia berkebudayaan kolektifk atau saiyek saekoproyo. Hal ini seperti dikemukakan oleh Riset H. S, Oh, dengan titel, Do Collectivist conform more than individualism? Cross Cultural differences in compliance and internazionalization, Social behavior and Personality: an International Journal, 41, 981-994. Pada konteks konformitas atau perubahan sikap atau perilaku agar sesuai dengan norma sosial yang ada, masyarakat kita selangkah lebih maju dibandingkan dengan kultur Amerika dan Eropa yang individualis bahkan ateis, sesuai akar filsafat mereka kebanyakan yang memang berangkat dari filsafat individualisme. Apalagi Madiun berisi masyarakat Jawa yang cenderung memegang erat harmonisasi dari pada disharmoni. Sebagaimana sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari petuah spendahulu kita antara lain, silih asah, silih asih, silih asuh.

Oleh karena itu, pemerintah setempat penting melibatkan para aktivis, relawan psiko-spiritualis baik berlatar profesional, keagamaan atau kebudayaan. Penjelasan-penjelasan non medis yang bersifat mental dan psikis memerlukan orang yang kompeten sesuai keahlian. Senada dengan arahan Word Health Organization (2020) dan American Psycological Association  (2020) dalam rangka mengurangi resiko dampak pandemi dalam aspek mentalitas dan kejiwaan. Seperti membatasi informasi tidak sehat; menjaga koneksi dengan orang lain; menjalankan aktivitas, kreasi dan inovasi; mengkopi strategi mengurangi stres, membangun optimism dan harapan positi dengan psiko religious; aware terhadap situasi terkini; aktiv berkegiatan sosial atau berbagi hal baik;  kooperatif dan pro aktif terlibat dalam masalah dampak pandemi,(lihat lebih lanjut; www.who.int dan www.apa.org). Semua arahan APA dan WHO ini tetap dalam kaidah 5 M sebagai norma dan kebiasaan baru. (AM)

Penulis: Ali Makhrus
*The Member of Class of Da’wa, Communication and Social Development in Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidaytullah Jakarta.