Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Tuesday, February 16, 2021

Otodidak, Berangkat dari Hobi Ngulik Elektronik Warga Randualas Kec. Kare Ini Jadi Ahli Reparasi

Istiawan saat menservis tv di rumah warga pada
Selasa (16/2), keahlian otodidak bisa jadi ahli dibidangnya. 
Gemawilis/Kabar Warga -
Berawal dari hobinya ngulik barang elektronik pada saat ia masih duduk dibangku sekolah, seorang warga di K
ecamatan Kare Madiun, kini jadi ahli reparasi barang-barang elektronik.

Uniknya, kepiawaiannya dalam membetulkan barang elektronik tersebut ia dapat secara otodidak alias tanpa melalui proses sekolah atau pembekalan kusus terkait dibidangnya.

Bahkan profesi yang di jalani oleh laki-laki 35 tahun yang bernama Istiawan atau yang sering juga di sapa Wawan juga Topan ini pada saat masa pandemi seperti ini tidak terdampak sama sekali.

Selama ini warga Dusun Seloaji, RT 31/10 Desa Randualas, Kecamatan Kare ini dalam menservis berbagai alat elektronik seperti tv, kulkas, dispenser, mesin cuci, hanphone dan berbagai alat lainnya kebanyakan ia kerjakan di rumah konsumennya atau istilahnya di undang.

Pria kelahiran 1985 ini mengatakan sudah menjalani profesinya sejak sekitar 15 tahun lalu. "Kira-kira sudah 15 tahun lalu, awalnya waktu sekolah SMP memang sudah hobi elektronik. Namun karena dulu orang tua gak ada biaya, jadi gak bisa ngelanjutin ke sekolah STM, padahal pingin waktu itu masuk jurusan teknik elektro, "kenangnya.

Berkat keahliannya itu, Topan mengaku bisa diundang oleh warga untuk menservis berbagai alat elektronik 4 sampai 5 kali dalam seminggu. "Sering, apalagi sekarang orang lebih sering mengundang kerumah dari pada nganterin ke tempat saya. Dan saya juga lebih suka seperti itu, karena konsumen bisa lebih percaya dan nyaman saat barangnya di kerjakan di rumahnya, "kata alumni SMPN 1 Kare priode tahun 1999/2000 itu. Selasa (16/2/2021).

Sementara untuk biaya servis, Topan mengaku tidak pernah memberi harga kusus, biasanya orang yang ngundang yang akan memberi upah seiklasnya. Hanya saja untuk komponen yang rusak atau alat yang perlu diganti jika ada kerusakan di bebankan pada pihak yang punya barang.

"Saya untuk upah gak pernah target, itu seiklasnya yang menyuruh saya. Hanya komponen yang rusak yang perlu diganti saja dibebankan pada mereka. Cuman misal memang jauh tempatnya dari lokasi saya biasanya mereka juga tau sendiri, kan butuh bengsin juga. Niatnya juga membantu, lagian masyarakat yang rumahnya jauh juga kasihan misal barangnya rusak terus harus ke tempat servis yang jauh, "tutur Topan.

Ia mengaku sering dipanggil ke daerah pelosok untuk membetulkan barang milik warga. "Sering ke tempat yang jauh-jauh, seperti daerah Kecamatan Gemarang, Kare, Wungu dan bahkan sampai kota juga, "imbuhnya.

Meski hasilnya tidak begitu banyak menjadi tukang servis elektronik, namun selama ini bapak 2 anak ini mengaku bersyukur dengan keahlian yang ia miliki secara otodidak tersebut. Setidaknya dengan menjadi tukang servis hasilnya bisa ia gunakan untuk menopang kebutuhan keluarganya.

Jika job servisnya kosong atau sedang tidak ada yang mengundang dirinya untuk membetulkan elektronik, Topan punya profesi lain yakni bakul, atau pembeli buah seperti alpulat dan sirsat milik warga kemudian ia jual kembali ke pengepul. "Kalau servis sepi cari alpulat sama sirsat di kampung-kampung. Lumayan buat nambah-nambah, "pungkasnya. (Tim/gw)

BERITA TERKAIT