Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Sunday, February 21, 2021

Mempunyai Nama yang Sama, Cucak Wilis dan Gunung Wilis, Populasinya Kian Menipis

Gambar burung cucak wilis, endemik asli
Indonesia yang terus menipis (fot: editing istimewa)
Gemawilis/Kabar Satwa -
Burung Cucak Wilis, entah kenapa dinamai cucak wilis, apakah memang ada keterkaitannya dengan nama gunung wilis yang berdiri di 6 perbatasan Kabupaten itu. Padahal burung ini hidup juga tidak hanya di kawasan pegunungan wilis saja, namun sebagai burung endemik asli Indonesia cucak wilis juga bisa ditemui di
Sumatra, Jawa, sampai dengan Bali.

Terus, apakah di sekitar gunung wilis cucak wilis ada? Jelas ada, karena burung dengan nama latin (Pycnonotus bimaculatus) ini sampai sekarang masih ada dan hidup di sekitaran gunung wilis. Hal itu di kuatkan dari hasil investigasi kami seminggu lalu kepada beberapa tukang pikat (pencari burung di hutan -red) di Dusun Gligi Desa Kepel Kecamatan Kare Madiun.

Tiga orang tukang pikat setempat yang kami temui (nama kami rahasiakan karena menyangkut aktifitas bersangkutan) mengatakan, burung cucak wilis masih ada di sekitar gunung wilis meski jumlahnya tidak seperti dulu lagi. Mereka mengatakan beberapa kali masih mendapatkannya meski harganya sendiri tidaklah terlalu mahal. Di hutan-hutan sekitar wilis mereka mengaku saat ini memang sudah jarang terlihat apa lagi terdengar suara kicauannya.

Hal itu juga di benarkan oleh salah satu pengepul burung yang asal Desa Kare, Kecamatan Kare Madiun, ia mengatakan jika burung yang oleh masyarakat setempat lebih sering disebut burung 'Rengganis' itu masih ada. "Rengganis itu namanya, masih banyak itu. Tapi di daerah dekat gunung Ngliman dan Ndorowati, untuk di dekat pemukiman atau hutan dekat kapung-kampung sudah gak ada, "jelas Y (inisial -red). Minggu (20/2/2021).

Karena statusnya endemik, burung cucak wilis sendiri hanya bisa ditemui di wilayah Indonesia, jika dalam bahasa inggris burung ini bisa disebut dengan nama orange-spotted bulbul. Namun seiring perilaku penangkapan burung di alam bebas yang kian marak, kini keberadaannya pun mulai terus berkurang dan hanya bisa dijumpai di hutan-hutan yang jauh dari pemukiman warga.

Salah satu pemicu burung semakin sedikit keberadaannya adalah perdagangan. Sehingga berbagai jenis burung yang dulu umum sering dijumpai di pemukiman seperti burung prenjak, pleci kaca mata jawa, betet, dan jenis lainnya pun kini semakin menipis dan hampir punah.

Selain burung Cucak wilis, ternyata di pegunungan wilis juga masih dihuni oleh beberapa jenis burung lainnya, bahkan diantaranya masuk dalam jenis burung yang dilindungi. Data tersebut berdasarkan identifikasi yang dilakukan oleh Organisasi Profauna pada Maret, tahun 2018 lalu.

Dari data yang mereka peroleh selama melakukan pencatatan, ternyata jenis burung yang hidup di gunung wilis hanya tinggal sebayak 38 jenis burung. Diantaranya adalah burung, Serindit jawa (Loriculus pusillus), Bubut alang-alang (Centropos bengalensis), Paok pancawarna (Pitta guajana), Jingjing batu (Hemipus hirundinaceus), Cekakak batu (Lacedo pulchella), dan Kadalan kembang (Phaenicophaeus javanicus).
 
Sementara dari kelompok jenis elang ditemukan dua jenis, yakni Elang bido (Spilornos cheela) dan, Elang hitam (Ictinaetus malayensis).

Sedangkan untuk jenis satwa termasuk dilindungi adalah burung Takur ungkut ungkut (Psilopogon haemacepahala), Elang bido (Spilornos cheela),  Elang hitam (Ictinaetus malayensis), Cekakak sungai (Todhiramphus chloris), Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), Takur tohtor (Psilopogon armillaris), Takur tulung tumpuk (Psilopogon javensis), Paok pancawarna (Pitta guajana), Cekakak batu (Lacedo pulchella), Madu sriganti (Nectarinia jugularis), Madu sriganti (Nectarinia jugularis), dan Takur tenggeret (Psilopogon australis).

Keberadaan burung-burung di alam bebas selama ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sayangnya di banyak tempat berbagai jenis burung telah menurun drastis populasinya. Bahkan sudah punah secara lokal, akibat penangkapan dengan menggunakan jaring, getah, pikat, dan sebagainya.

Mengambil atau membawa satwa liar jenis apapun (termasuk yang tidak dilindungi) keluar dari kawasan hutan itu prinsipnya adalah dilarang. Pelanggarnya bisa dikenakan hukuman pidana penjara 1 tahun. (UU no 41/1999 tentang Kehutanan)

Berburu/menjerat/memikat/menangkap satwa liar dari kawasan pelestarian alam itu perbuatan melanggar hukum karena tidak sesuai dengan fungsinya. Bagi yang melanggarnya bisa dikenakan sanksi pidana penjara 5 tahun dan denda  100 juta. (UU no 5/1990). (Rehj/Tim/gw)

**Kirimkan tulisan Anda (opini, esai) untuk diterbitkan di Gemawilis. Salam sejahtera semangat membangun negeri. #PakaiMasker