Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Saturday, February 13, 2021

Komentar Ibnu Khaldun Atas Tragedi 'Mahapralaya' di Medang Kamulan (Madiun - 2)

Gambar ilustrasi (pixabay).
Gemawilis/Sejarah -
Tragedi “Mahapralaya“ atau “Pralaya“ adalah peristiwa berdarah nan pahit yang menimpa kerajaan Medang Kamulan di Madiun (Wwtan) pada tahun 939 Saka atau sekitar 1006 M. Kejadian naas tersebut tidak dapat diantisipasi oleh elit kerajaan baik prabu, militer, politisi, polisi atau bahkan ormas-ormas yang ada pada waktu itu. Hingga nasib sang Prabu Dharmawangsa Teguh beserta pejabat kerajaan lainya jadi tumbal atas kekejaman serbuan tersebut. Sementara, keselamatan hanya diperoleh oleh sang mantu, Airlangga, dan istri, dan Empu Narottama. Selanjutnya, belum ada sumber yang dapat dilacak untuk mengetahui informasi terkait pihak lain yang selamat.
 

Wurawari: Saudara dan Bawahan yang Memberontak

Wurawari merupakan vasal atau bagian dari struktur pemerintahan Medang Kamulan yang berkedudukan di Lwram (atau Ngloram) Cepu Blora (sekarang ini). Nama Wurawari disebut dalam Prasati Pucangan terbitan Prabu Airlangga tahun 939 Saka. Setelah peristiwa Pralaya, nama daerah itu sirna ditelan zaman. Kabar dari Dinasti Song pun tidak menuturkan keberadaan kerajaan Wurawari. Karena alasan ini, teori yang mengatakan bahwa Wurawari merupakan sebuah kerajaan bagian dari Medang Kamulan bisa dibenarkan. Seperti keterangan dalam buku sejarah nasional kita.

Ada temuan arkeologis menarik dari Sukahumi Jawa Barat (sekarang) tentang hubungan Medang Kamulan, Wurawari, Sriwijaya, Sunda dan Bali. Informasi ini dikuatakan dengan ditemukannya Prasasti Cibadak (1030), sebagaimana yang terekan dalam Karya Pleyte tentang Sri Jayabhupati berjudul _Maharja Cri Jabhupati Soenda’s Oudts Boekende Vosrt (1915)_.

Prasati Cibadak menerangkan dalam bahasa Jawa Kuno sebagai berikut, "Mangkana ta hana pakadangan pantara raja Criwijaya, raja Sunda, raja Wura Wari, raja Dharmawangsa Tguh mwang raja Bali. Dadyeka yudha nira kawalya rumebut yacawiryya mwang ahyun pinuja" (Ada pertalian kekerabatan antara raja Sriwijaya, raja Sunda, raja Wurawari, raja Dharmawangsa Teguh dan raja Bali. Jadi, peperangan di antara mereka itu hanyalah memperebutkan kemasyhuran dan ingin dipuja).

Prasasti dari tatar Sunda tersebut menejelaskan hubungan kekeluargaan antara, Sriwijaya, Sunda, Wurawari, Medang Kamulan serta Bali. Sri Jayabhupati merupakan menantu Prabu Dharmawangsa Teguh sebab menikah dengan anak perempuan pertama. Sementara anak bungsu Sang Prabu menikah dengan Airlangga dari Bali. Dengan demikian, Prabu Dharmawangsa Teguh memiliki 2 anak perempuan, Sementara, Wurawari dengan Sriwijaya merupakan hubungan menantu dengan mertua. Hanya saja Wurawari merupakan menantu yang menjadi bawahan Medang Kamulan. Pada titik ini, Sayangnya, hubungan _kindship_ Wurawari dan Medang Kamulan belum ada bukti historis yang cukup sebagai sumber informasi.

Ibnu Khaldun dan Teori Kehancuran Kerajaan (Kepemimpinan)

Ibnu Khaldun (1332-1406 M) adalah seorang sejawaran, politisi, dan sosiolog, berkelahiran Tunisia, pada era dinasti Mamluk. Intelektualitas beliau terekam dalam salah satu karyanya yang berjudul _“Muqaddimah“_.
Ibnu Khaldun berpendapat, jika _ashabiyah_ (solidaritas sosial) adalah akar dari pembentukan sebuah kerajaan atau negara“. Selain itu, _ashabiyah_ merupakan watak alami masyarakat dimanapun berada. Sehingga, saat manusia menyadari kebutuhan alamiah tersebut, secara otomatis mereka akan melakukan konsolidasi, dan kepemimpinan sosial. Hingga sampai pada saatnya, mereka akan menciptakan sebuah peradaban masyarakat kota, masyarakat yang menjunjung tinggi hukum, ilmu pengetahuan, etika dan rasionalitas.

Hanya saja, pencapaian manusia itu bergerak ‘siklikal‘ yang akan terus berulang-ulang dari proses pembentukan hingga kehancuran. Sehingga, kerajaan atau negara manapun, menurut Ibnu Khaldun, tidak ada yang akan bertahan secara abadi. Satu hal penting yang patut dikemukakan di sini adalah, setiap tahapan yang dikemukan oleh Ibnu Khaldun itu selalu ada tiga kelompok masyrakat atau pemuda;

Pertama ialah generasi pembangun masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai kesederhanaan, dan solidaritas yang tulus patuh di bawah otoritas yang sah. Mereka adalah kelompok yang memiliki komitmen dan ‘solidaritas mekanik‘ (istilah Emile Durkheim) yang terus dipertahankan. Mereka sedikit menikmati pencapaiaan.

Kedua ialah generasi penikmat dimana generasi ini merupakan kelompok yang diuntungkan oleh pencapaian politik dan ekonomi, sehingga menumpulkan kepekaan terhadap situasi dan kondisi negara atau kerajaan. Dengan kata lain kelompok ini, dalam bahasa Durkheimian, berbalut kepentingan individual atau bahkan merugikan kepemimpinan, misal adanya transaski jabatan, gratifikasi, kolusi dan korupsi yang mulai mewabah di internal pemerintahan bahkan masyarakat.

Ketiga ialah mereka yang melepaskan diri dari hiruk pikuk negara dan kerajaan. Mereka ini kelompok yang terjerembat dalam kehidupan yang hura-hura dan egois tingkat tinggi. Pada posisi ini, baik elit maupun sipil sama-sama terdegradasi baik moral, spiritual dan intelektual. Sehingga, kehidupan mereka pada titik berlebihan dan tidak tahu menahu terhadap realitas sekeliling mereka.

Tragedi “Mahapralaya“, hemat penulis, telah didominasi oleh kelompok ketiga dari generasi ketiga dari ketiga komposisi generasi versi Ibnu Khaldun, yakni jaman dimana menguatnya kelompok pejabat dan rakyat yang sudah terbentuk dengan beragam kemakmuran dan pencapaian yang telah ditorehkan oleh leluhur mereka. Mereka hanya menuruti gengsi, hawa nafsu dan kepuasan belaka, mengabaikan keadilan dan kesejahteraan masyarakat.

Indikasi tersebut terlihat jelas pada pemberontakan Wurawari sebagai bawahan sekaligus saudara yang kurang mendapat keadilan. Ekspansi ke Sriwijaya yang berlangsung selama 16 tahun, tanpa disertai penguatan internal plus juga uforia dengan simbol pernikahan yang besar-besaran. Dan ketiadaan bukti arkeologis yang menginformasikan kemajuan dalam bidang teknologi, ilmu pengetahuan, seni dan pembangunan.

Pembahasan di atas menjadi satu pelajaran bagi generasi kita sekarang, betapa kepedulian, kepekaan terhadap realitas berbangsa dan bernegara adalah penguat kepemimpinan itu sendiri. Semakin dominan kelompok dengan solidaritas mekanik, maka dapat dimungkinkan keberlangsungan kepemimpinan masih jauh dari keruntuhan. Hal sebaliknya, bila pemuda atau kelompok mengindap kealpaan realitas, pembungkaman kelompok kritis dan peduli semakin meningkat, maka dapat diprediksi siklus keruntuhan kepemimpian akan segera tiba. (AM/gw)

Baca Bagian 1: Kudeta Kepemimpinan Dharmawangsa Teguh di Madiun

Oleh: Ali Makhrus
*Magister SPs UIN Jakarta