Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Thursday, February 18, 2021

Ketika Bangsa Eropa Tau Potensi Kekayaan Alam di Lereng Wilis, Loji Mulai Bermunculan

Salah satu bangunan loji peninggalan Belanda di
daerah Kandangan Kecamatan Kare Madiun (fot: istimewa)
Gemawilis/Sejarah -
Lereng Wilis merupakan daerah yang sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai daerah pertanian. Kesuburan tanah yang dimiliki dan kekayaan sumber alamnya hingga mampu menarik perhatian para bangsa kulit putih.


Sebelum meletus Perang Diponegoro pada tanggal 1 Januari 1832, daerah lereng pegunungan Wilis (sekarang Kabupaten Madiun), belum pernah di jamah oleh bangsa Eropa atau orang-orang Belanda. Namun setelah berakhirnya Perang Diponegoro, orang Belanda mulai mengendus akan potensi daerah di Madiun.

Setelah bangsa Eropa itu tau sumber kekayaan alam yang ada di daerah Madiun, mereka pun mulai tertarik untuk menduduki daerah pegunungan wilis dengan tujuan untuk mengeruk kekayaan alamnya terutama rempah-rempah dengan cara mendirikan berbagai pabrik dan perkebunan.

Terhitung setelah perang itu berakhir, Madiun secara resmi dikuasai oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian dibentuklah suatu tatanan Pemerintahan yang berstatus Karesidenan dengan Ibu Kota di Desa Kartoharjo (tempat istana Patih Kartoharjo) yang berdekatan dengan istana Kabupaten Madiun di Desa Pangongangan.

Karena statusnya yang merasa lebih superior dari pada penduduk pribumi, semua orang-orang Belanda itu saat berada di Madiun memilih bermukim di dalam kota di sekitar Istana Residen Madiun dan mereka pun tidak mau diperintah oleh Pemerintah Kabupaten Madiun pada waktu itu.

Selanjutnya untuk melaksanakan segregasi (pemisahan) sosial, berdasarkan perundang-undangan inlandsche gementee ordonantie, oleh Departemen Binenlandsch Bestuur, dibentuklah Staads Gementee Madiun atau Kotapraja Madiun berdasarkan Peraturan Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 20 Juni 1918, dengan berdasarkan staatsblaad tahun 1918 nomor 326.

Sejak saat itu, orang-orang Belanda yang mempunyai keahlian di bidang perindustrian dan perkebunan pun mulai didatangkan untuk mengolah sumber daya alam yang ada di kawasan lereng wilis. Sehingga munculah berbagai pabrik-pabrik dan perkebunan di daerah Madiun.

Tercatat, beberapa pabrik yang dibangun oleh orang-orang kulit putih itu diantaranya pabrik gula PG. Pagotan, PG. Kanigoro, PG. Rejoagung, PG. Redjosarie di Kawedanan, dan masih banyak lagi pabrik-pabrik lainnya.

Selain perindustrian, orang-orang Belanda juga membuka perkebunan, seperti kebun tembakau di Pilang Kenceng, kebun teh di Jamus dan perkebunan kopi di daerah Kandangan Kecamatan Kare. Belum lagi beberapa bangunan yang tidak tercatat dan luput dari pendataan karena sudah rusak.

Bahkan tepat di lerengnya gunung wilis sekalipun Bangsa Eropa itu juga membangun berbagai bangunan, selain perkebunan kopi Kandangan. Hingga sekarang peninggalan Belanda itu masih bisa kita temukan di daerah lereng wilis yakni di wilayah Kecamatan Kare. Bangunan itu biasanya disebut Loji, dengan ciri khas tembok bangunannya menggunakan material batu.

Selain beberapa loji yang ada di daerah Kandangan, ada juga loji yang dibangun Belanda di daerah timur Pasar Gondosuli Desa Kare, orang setempat menamaninya Loji Santan (santan sebutan sebuah sungai) meski sekarang hanya tinggal sisa-sisa materialnya saja.

Di daerah Kelurahan/Kecamatan Wungu tepatnya timur wisata Grape juga bisa ditemukan sebuah bangunan loji peninggalan Belanda berupa bendungan dan terowongan air yang sampai sekarang masih digunakan untuk saluran air menuju Dam Wungu.

Bergeser ke daerah Kecamatan Dagangan di Desa Segulung, juga bisa kita temukan bekas-bekas loji dan rumah Belanda, tepatnya di Dusun Pesanggrahan. Konon, disini dulu merupakan tempat tinggal orang Belanda pada masa penjajahan.

Itulah beberapa catatan sejarah dan beberapa tempat yang kami rangkum dari berbagai sumber yang tentunya masih banyak lagi sejarah maupun peninggalan-peninggalan orang Belanda yang ada di sekitar lereng wilis baik yang sudah runtuh maupun yang masih dimanfaatkan hingga sekarang.

Setidaknya dengan masih ditemukannya loji-loji itu bisa menjadi bukti jika daerah Madiun memang memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa hingga bangsa Eropa pun tertarik dengan membuka berbagai fasilitas perindustrian pada masa itu. (Yus/Tim/gw)