Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About

Thursday, February 11, 2021

Gagal Mendunia: Iktibar Kudeta Kepemimpinan Dharmawangsa Teguh di Madiun

Gemawilis/Sejarah -
Siapa orang Madiun Raya yang tidak mengenal nama Dharmawangsa Teguh? Dia merupakan sosok pemimpin Medang Kamulan pada periode Bang Wetan atau Jawa Timur untuk sekarang. Beliau diperkirakan menjabat pada akhir abad 10-11 Masehi. Keterangan tersebut dapat dibaca dalam buku Madiun: Sejarah Politik dan Transformasi Kepemerintahan dari Abad XIV hingga Awal Abad XXI.

Namun sayang, negara sang prabu hancur dalam waktu sekejap. Hal itu diakibatkan serangan koalisi adipati Wurawari, yang berkedudukan di Blora (sekarang), dan Sriwijaya dari pulau Sumatra. Selain disebabkan perebutan dominasi dan hegemoni antar penguasa, runtuhnya kekuasaan beliau ditengarahi karena keteledoran sang pimpinan dan para pejabat kerajaan kala itu. Uforia pagelaran nikah sang putri dengan Airlangga, seorang pangeran dari Bali, menjadi titik balik keruntuhan Medang Kamulan.

Menurut temuan arkeolog, Medang Kamulan diperkirakan beristana  di wilayah Wotan (Wwtan), Maospati, Jiwan dan sekelilingnya. Hal itu didasarkan pada temuan-temuan prasasti yang antara lain, Prasasti Pucangan. Prasasti penting ini, pertama kali ditemukan saat kependudukan Inggris di Jawa, Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles, pada tahun 1812. Lantas, Prasasti ini diserahkan kepada Gubernur Jenderal Inggris di India, Lord Minto. Kabarnya, nasib prasasti itu tidak terurus di Muesum Kolkata India. Hal tersebut sebagaiman keterangan di buku The History of Java.

Internasionalisasi Politik - Ekonomi Era Madang Kamulan (Madiun)

Medang Kamulan atau Mataram Kuno merupakan negara yang telah memeliki pengaruh kuat baik di darat maupun laut di Asia Tenggara. Ambisi menguasai jalur sutra laut di Sememenanjung Malaka telah lama dirintis oleh para pendahulunya. Kisah tersebut dikonfirmasi oleh berita dari Tiongkok pada era Dinasti Song.

Sumber Tiongkok menyebut, _San-Fo-Tsi_ (Sriwijaya) dan _She-Po_ (Jawa), saling bersaing sejak awal berdiriinya. She-Po melancarkan kebijakan luar negeri dengan menginvasi _San-Fo-Tsi_ pada tahun 990 M. Manuver itu untuk merebut pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya di Malaka. Setelah pendudukan armada di Sriwijaya, pada tahun 992, Medang mengirim diplomat ke Tiongkok menjalin kerjasama dan informasi tentang keadaan Sriwijaya yang terdesak oleh Medang.

Sisi lain, pada tahun 988, diplomat Sriwijaya telah berangkat lebih dulu ke Tiongkok untuk urusan perdagangan. Bahkan bisa jadi, juga menjalin hubungan politik dan militer. Naas, pada kembali dari misi luar negeri, berpapasan dengan invasi Medang ke Sriwijaya. Dominasi politik She-Po terhadap San-Fo-Tsi bertahan hingga pada tahun 997 M. Informasi terakhir ini didapat dari Prasasti Hujung Langit mengenai invasi Medang Kamulan ke Sriwijaya.

Merasa tidak terima, maka pada tahun 999, delegasi Sriwijaya memastikan kembali trade and politik agreement dengan Dinasti Song. Bahkan, Sriwijaya menagih komitmen dinasti Song bagi kedaulatan Sriwijaya. Proses lobi dan negosiasi yang berlangsung alot tersebut berakhir dengan kesepakatan yang sudah dibangun. Dan mencabut dukungan atas Medang. Komitmen itu disimbolkan pembangunan kuil Budha tempat berdoa untuk umur panjang kaisar, sementara Kaisar menjawab dengan memberikan lonceng, agar dipasang untuk kuil.

Medang Kamulan bertahan dan terus melakuan agresi militer sampai tahun 1006 M, yakni 16 tahun. Karena sendirian tanpa mitra luar negeri, akhirnya Medang Kamulan terpakasa Mundur ke barak. Selain itu, sang Prabu sedang mempersiakan penyelenggaran pesta pernikahan sang putri satu-satunya. Bisa jadi prosesi ini membuat semua kabinet harus diliburkan untuk memeriahkan acara, dan melupakan sejenak tugas-tugas kedinasan.

Keterangan di atas, memberikan petunjuk bahwa Medang Kamulan dalam kondisi politik-ekonomi yang stabil di internal kerajaan. Tidak saja pada wilayah agraria, sebagai ciri kerajaan di pedalaman, melainkan juga dominasi laut. Sehingga, internasionalisasi menjadi arah kebijakan politik luar negeri. Rajutan diplomasi dagang dan politik ke Dinasti Song Tiongkok, pengerahan pasukan ke Sriwijaya, menandai proses-proses politik dalam merebut legitimasi kemaharajaan di wilayah Asia Tenggara.

Sayangnya, perhatian berlebih dalam politik luar negeri (pencitraan) mengakibatkan situasi internal agak sedikit terabaikan, kemitraan dengan Dinasti Song juga melemah. Selain itu, gerakan pembangkangan dari saudara dan bawahan, Haji Wurawari, yang konon merasa tidak diterima lamarannya ditolak (?). Dan diam-diam telah meninta dukungan ke Sriwijaya, yang juga saudara. Di saat Sriwijaya sedang mencari cara melakukan serangan balik atas perbuatan Medang Kamulan selama ini.

Gelagat itu tidak diantisipasi intelejen negara (BIN) Medang Kamulan atau memang sedang berlangsung pernikahan Sang Putri Dharmawangsa Teguh dan Airlangga. Sehingga, semua aktivitas pemerintahan diliburkan berdasar arahan Sang Prabu.

Tragedi "Mahapralaya" Sebuh Kudeta?

Persitiwa penyerbuan tersebut dicatat dalam Prasati Pucangan 1041 M peninggalan Airlangga. Jalinan pernikahan Jawa dan Bali terlebih dahulu digambarkan dalam Prasasti Pucangan versi Sanskerta baris 13 yang berbunyi: Sri Dharmmavasa iti purvayavadhipena sambandhina agunaganasravanotsukena ahuya sadaram asau svasuta vivahan drak purvata prathita kirttih abhut mahatm. "Sri Dharmawangsa, setelah memanggil dengan hormat, yang ingin sekali (mendengar) segala macam sifat baik dia/, Airlangga, kemudian secara langsung disertai oleh upacara pernikahan anak perempuan mereka dengan dia, saudara sepupu raja Jawa sebelumnya, terkenallah keberadaan jiwa yang besar di mana-mana“.

Sementara versi Prasasti Pucangan Jawa Kuno pada baris 5-8 mengkisahkan secara singkat peristiwa dahsat tersebut: Pralaya rin yawadwipa I rikan sakakala 939 ri pralaya haji Wurawari maso, mijil sanke Lwaram, ekarnawa rupanikan, sayawadwipa rilan ka // la, akweh sira wwan mahawisesa pjah, karuhun samanankana diwasa sri maharaja dewata pjah lumah rin san hyan dharma parhyangan I Wwtan rin cetramasa sakakala 939 sdan wala // Sri Maharaja kunan ri saksatiran wisnumurti rinaksanin sarbwadewata, innahaken tan ilva kawasa deni panawasanin mahapralaya. “Kiamat pulau Jawa yang terjadi pada tahun 939 Saka, karena serangan raja Wurawari yang datang menyerbu dari Lwaram. Seluruh pulau Jawa pada waktu itu tampak bagai lautan // banyak orang-orang penting gugur, khususnya juga pada waktu bahwa Sri Maharaja wafat gugur dan dimakamkan di Candi Suci Wwtan pada bulan Caitra tahun 939 Saka // Sri Maharja (Airlangga) sesungguhnya ingkarnasi Wisnu. Dia dilindungi para dewa dan dicalonkan untuk tidak menjadi korban kekuasaan malapetaka besa“.

Peristiwa kudeta itu terjadi secara mendadak dan dilakukan tidak hanya pihak internal, melainkan juga melibatkan pihak eksternal. Teori kudeta atau pengambilalihan secara paksa hanya bisa terjadi dari dalam (versi Kepala KSP Moeldoko). Pihak luar hanya sebagai kekuatan pendukung baik logistik atau militer. Tentu saja, Wurawari yang dekat dengan Medang Kamulan, bisa diduga telah melakukan penyusupan mengenai situasi dan kondisi kesiap-siagaan Medang Kamulan sejak lama.

Pertanyaan selanjutnya adalah, “Mengapa Medang Kamulan tidak menganeksasi Wurawari yang terdekat terlebih dahulu? Sisi lain, Medang Kamulan terus menerus melakukan agresi militer ke Sriwijaya (perluasan)?“. (AM/gw)

Baca bagian 2: Tragedi “Mahapralaya“ di Medang Kamulan

Oleh: Ali Makhrus
*Magister SPs UIN Jakarta
(Artikel diolah dari berbagai sumber)

Rekomendasi