Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
 

Friday, February 5, 2021

Endangered: Nasib Endemik Penjaga Ekosistem yang Kurang Perhatian

Gambar ilustrasi (fot: istimewa)
Gemawilis/Opini -
Beberapa tahun terakhir banyak para pelaku usaha yang berkecimpung di dunia pertanian mengeluh, baik para pelaku agrobisnis maupun dari para petaninya langsung.


Hal tersebut karena pada beberapa tahun terakhir banyak munculnya hama di dunia pertanian, misalnya, terjadi pada pohon cabe, pohon kopi, pohon cengkeh, dan masih banyak lagi pada tumbuhan yang lainnya. Salah satunya kerusakan diakibatkan karena ulat yang berlebihan yang disebabkan berkurangnya predator di alam.

Jika bicara predator, tentu kita akan mengacu pada habitat burung. Karena selama ini burunglah yang membantu masyarakat petani dalam membasmi teur-telur secara alami yang nantinya akan menjadi hama.

Sebenarnya banyak jenis burung yang sudah berkurang di dalam bebas, seperti burung Sirpu, Prenjak, Ciblek, Tledekan, Sikatan, Glatik Batu, Opyor Jawa dan puluhan jenis lainnya. Tetapi contoh yang paling mudah dan mungkin paling familiar di masyarakat adalah jenis burung Pleci atau Si Kacamata Jawa.

Kenapa kami mengambil contoh burung pleci, sebab, burung ini paling menonjol dalam kepunahannya dibanding jenis yang lainnya. Dulu, sikecil bersuara melengking dengan nada call nya ini sering kita jumpai dan kerap kita nikmati merdu suaranya di saat pagi atau sore hari. Bahkan di pekarangan saat pagi dan sore hampir pasti sering kita melihat keberadaannya, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan.

Seiring waktu, karena penangkapan liar dan penjualan secara besar-besaran, keberadaan si kecil semakin berkurang, bahkan bisa dikatakan punah. Kacamata Jawa (Zosterops Flavus), Pleci Sangihe (Zosterops Nehrkorni), dan Wallacea (Zosterops Wallacei) sebenarnya masuk dalam jenis burung dilindungi.

[Peraturan Undang-undang Nomor 5 tahun 1990, Peraturan Pemerintahan Nomor 7 tahun 1999, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : No.106/MenLHK/Setjen/Kum.1/12/2018]. Selain burung pleci bahkan, IUNC juga memasukan Glatik Jawa dalam setatus EN (Endangered) yang artinya terancam punah.

Burung kacamata atau pleci adalah salah satu species burung asli endemik Indonesia yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia dan menjadi kekayaan keanekaragaman hayati. Namun, species burung pleci saat ini sudah mulai terancam punah dan hampir jarang terlihat di alam bebas.

Hal tersebut seharusnya menjadi catatan dan perhatian penting bagi pihak terkait dan para penggiat pelestari alam khususnya bagi para pelestari burung. Namun yang terjadi saat ini para penggiat pelestari burung hanya memperhatikan jenis-jenis burung tertentu yang mana disitu mempunyai nilai jual tinggi saja.

Opyor Jawa misalnya, opyor jawa, adalah jenis burung endemik yang juga masuk dalam jenis burung dilindungi meski harganya sendiri murah, berkisar 15 - 25 ribu saja. Namun justru dengan harga yang murah tersebut selama ini burung-burung penting itu luput dari perhatian para penggiat pelestari burung.

Padahal, burung-burung berukuran kecil itulah yang selama lebih memberi manfaat kepada alam sebagai predator alami dalam berlangsungnya ekosistem di alam liar. Burung akan membasmi telur yang nantinya akan menjadi hama dan juga akan menyebarkan banyak benih tumbuhan di alam liar. Sehingga dapat membantu kelestarian alam, membantu para petani dan tentu juga akan membantu dunia pertanian di negeri ini.

Satwa liar seperti burung, mempunyai keterkaitan yang sangat penting dalam kehidupan khususnya kepada hutan. Hutan dan satwa liar merupakan satu kesatuan yang saling membutuhkan. Hutan butuh satwa untuk membantu penyebaran biji, sehingga hutan tetap terjaga kelestariannya. Sebaliknya satwa liar juga butuh hutan sebagai habitanya untuk mencari makan, berlindung dan berkembang biak.

Maka, jika hal itu terus dibiarkan dan tidak ada perhatian khusus, bukan tidak mungkin alam akan benar-benar rusak. Dan kerusakan itu akan kita wariskan pada generasi yang akan datang. (Tim/gw)

Topik Lain