Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Sunday, January 24, 2021

Save Our Wilis: Eksplorasi Mengubur Sejarah Nenek Moyang

Gambar ilustrasi gemawilis, diambil 2020 di
deretan anak gunung Wilis lereng bagian utara/barat.
Gemawilis/Opini -
Kemajuan era digital dan tekhnologi semakin tahun semakin melejit, kecanggihnya pun tak hanya dinikmati oleh publik kota, namun juga sudah jauh menembus peradaban kehidupan yang ada di pelosok-pelosok. Industri pariwisata berlomba-lomba mengembangkan potensi alam yang menarik untuk di eksplor yang mana menjadi jargon kebanggaan suatu kawasan.


Namun eksplorasi secara besar-besaran mengubur dalam sejarah yang ada dalam kawasan tersebut. Banyak alam pegunungan yang secara tidak langsung kehilangan kewibawaanya, manusia-manusia angkuh tak punya sopan santun mengindahkan adab yang seharusnya dijunjung tinggi.

Inilah yang terjadi sekarang akhlak mulia warisan nenek moyang yang hilang seiring berjalannya waktu terkikis oleh peradaban dan pergantian zaman.

Kurun waktu 5 tahun terakhir para pelestari alam Wilis bersama pecinta alam berupaya menjaga keasrian dan kesucian gunung Wilis dengan cara mengkampanyekan Save Our Wilis.

Mulai sumber mata air, satwa langka, hutan lindung bahkan terakhir adanya upaya pembukaan jalur pendakian lama via Pulosari, Kare, kabupaten Madiun. Hal tersebut agar kedepan para pecinta alam yang ingin menikmati surga loka alam Wilis dapat terjaga dan terkondisi.

Gunung Wilis sendiri merupakan gugus pegunungan yang sangat luas yang menghubungkan sejumlah daerah yang kerap disingkat Tunggal Rogo Mandiri (Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, Trenggalek, Kediri). Memiliki luas 1.980 km² dengan puncak ketinggian 2.563 mdpl.

Gunung Wilis tercatat sebagai gunung berapi yang sedang tidur, terakhir ada laporan ditahun 1641 dan peningkatan aktivitas fumarol pada tahun 1885, namun semua itu belum bisa dibuktikan validitasnya.

Bukti kedigdayaan budaya Hindu pada zamannya terukir di gunung Wilis ini. Dilihat dari mulai ditemukannya situs bangunan suci seperti Candi Ngetos, Goa Selomangleng Kediri, Omben Jago, Candi Penampihan, Candi Padupragulapati, dan Situs Condrogeni.

Bahkan gunung Wilis merupakan salah satu gunung Suci dari kesembilan gunung di tanah Jawa, disebutkan di kitab Tantu Panggelaran. Kitab terbitan tahun 1557 Saka(1635 M) ini, gunung Wilis dipercaya merupakan reruntuhan gunung Katong (Lawu) dari rentetan hiburan gunung Sang Hyang Mahameru yang dipindahkan dari India ke Tanah Jawa.

Jejak kerajaan dalam sejarah juga telah terukir diselingkar wilis ini, pusat kerajaan disisi timur yakni kerajaan Penjalu di negara Daha dan sisi barat wilis ada dua kerajaan yakni kerajaan Wangkler di negara Lwa dan kerajaan Wurawan di negara Glang-Glang.

Selain bukti kedigdayaan budaya Hindu di puluhan abad yang lampau. Gunung Wilis sangat terkenal dengan rute perang gerilya sang Jendral Soedirman.

Bentangan hutan belantara yang begitu lebat menjadi keistimewaan sang panglima dalam menumpas kolonial Belanda pada waktu itu.

Dengan kekayaan alam dan nilai sejarah yang tinggi, 6 Kabupaten yang tergabung dalam Tunggal Rogo Mandiri sangat menjaga keasrian di wilayahnya masing-masing dengan satu tujuan agar terjaganya segala yang ada di Selingkar Wilis. (Ds/Tim/gw)
#SaveOurWilis