Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Monday, January 18, 2021

Misteri Lemah Olo, Onggo-Inggi di Kedung Alas Randualas, Barat Dusun Bringin

Gambar ilustrasi hutan Lemah Olo (fot: pixaby).
Gemawilis/Cerita Warga
"Sekitar pertengahan tahun 2019 lalu, seorang pencari ikan kali (tukang nyetrum -red) menyusuri dinginya sungai di tengah hutan Lemah Olo, sebut saja Pak Wigyo (disamarkan).


Kali Lemah Olo sendiri terletak di kawasan Alas Randualas (Desa Randualas). Sebelah barat Dusun Bringin, Desa Kuwiran, Kecamatan Kare, Madiun.

Waktu menunjukan pukul 20.30 malam, Pak Wigyo bergegas menyiapkan peralatan sentrumnya. Kemudian berangkat dengan sepeda motor tua yang ia miliki menuju hutan.

Pekerjaan Pak Wigyo memang sebagai tukang nyetrum, pencari ikan di sungai dengan alat setrum dari aki. Rutinitas itu sudah beliau lakukan bertahun-tahun, bisa dikatakan itulah mata pencahariannya setiap hari.

Malam itu menurut Pak Wigyo dia memang merasa tidak seperti malam-malam biasanya. Ia seperti punya firasat aneh dan seperti enggan berangkat, namun karena tekanan ekonomi akhirnya beliau pun melawan pikirannya.

Tanpa berpikir panjang dengan apa yang dirasakannya, setelah memyeruput sisa kopi buatan sang istri, lantas ia pun pamit kepada istri dan langsung berangkat. Perjalanan ditempuh sekitan 25-30 menit dari rumahnya di Dusun Beringin.

Perjalanan Pak Wigyo terhenti di sebuah gubuk (pos milik perhutani) di tengah hutan dimana waktu mulai larut malam. Gemuruh air sungai terdengar menyambutnya, kebetulan dibawah gubuk ada pertemuan arus air sungai (tempuran).

Getar kakinya terasa berat saat turun dari motor buntutnya, nampaknya ia masih kepikiran firasat aneh itu. Tapi karena alasan ekonomi, ia tetap nekat melakukan rutinitasnya. Sebatang rokok dinyalakan untuk mengusir gelisahnya sebelum turun ke sungai.

Belum lagi melangkah jauh dari gubuk, tiba-tiba angin sangat kencang menerpa pepohonan sono dan pule. Seketika leher, punggung, serta tangan mulai merinding, tetapi ia terus berpikiran positif dan melanjukan perjalanan.

Namun keanehan mulai ia rasakan sesaat setelah terpaan angin tersebut datang, Pak Wigyo langsung mengucap salam, "Aku mung golek nafakoh, golek sego kanggo keluargaku, "kata Pak Wigyo menceritakan waktu itu.

Headlamp (senter kepala) dinyalakan, kemudian ia mulai menyusuri jalan setapak dengan trek menurun, cuma berpegangan akar-akar pohon sono. "Koyo atlet panjat tebing profesional, "kembali kenangnya.

Pak Wigyo pun mulai berjalan menyusuri sunyinya malam hutan Lemah Olo yang berada di tengah hutan jati. Tidak lama berselang beliau sudah sampai di sungai bawah gubuk tempat pak Wigyo menaruh motornya tadi.

Sesampainya didasar sungai beliau tidak berlama lama, mesin segera dinyalakan, ia pun langsung mengumpulkan ikan yang didapat melalui alat setrum yang bertenaga aki tersebut. Entah apa yang dipikirkannya saat itu, beliau seperti salah pijak dan akhirnya terjatuh diatara bebatuan besar di atas kedung tempuran yang berada tepat disamping bawah kakinya.

Saat senter tepat tersorot ke arah kedung, tiba-tiba matanya terbelalak lebar, kaget bercampur histeris, kakinya gemetar, keringat dingin mulai keluar dari sekujur tubuh saat melihat gumparan rambut-rambut panjang yang begitu tebal. Kedung sungai tempuran yang membentuk seperti lingkaran oval itu pun seketika penuh dengan rambut misterius.

Dengan bibir kering, Lafaldz Allah terus di ucapkan. Matanya mulai dikedip-kedipkan agar rasa takutnya pergi, tetapi rambut-rambut tersebut tak kunjung pergi dari hadapannya, bahkan rambut itu semakin tebal dan mulai muncul jelas di permukaan air dan menutup semua bagian permukaan air kedung.

Akhirnya beliau pun mengalah dan bergegas berbalik arah untuk pergi. Sambil merangkak melewati batu-batu di tepi sungai, badan dan bajunya pun mulai basah dengan rasa penuh kepikiran sosok makhluk tadi. Kemudian ia memutuskan untuk pulang walaupun kepis (tempat ikan) nya baru terisi sedikit.

"Biasanya gak pernah takut saya, kalau nyari ikan ya memang biasanya malam dan biasa saja. Menurut cerita orang tua memang ditempat itu ada seperti itu. Katanya jelmaan penjaga kedung atau biasa orang jawa menyebutnya Onggo-Inggi, "kata Pak Wigyo.

Onggi-inggi sendiri menurut cerita jaman dulu adalah sebangsa mahkluk halus atau hantu. Onggo-Inggi katanya jika muncul rambutnya akan memenuhi sungai sampai-sampai air yang ada di sungai tersebut tidak terlihat. Bahkan kalau apes bisa membawa orang ke dasar sungai hingga meninggal.

*Cerita diatas murni di ambil dari narasumber langsung dan tanpa ada rekayasa baik dari penulis ataupun dari pihak bersangkutan. (Tim/gw)

BERITA TERKAIT