Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Sunday, January 03, 2021

Jadi Primadona dan Diburu Pabrik Nasional, Kakao dari Salah Satu Desa di Madiun Ini Dinilai Paling Mahal dan Punya Potensi Besar

Kepala Desa Batok saat menunjukan potensi kebun
kopi coklat disalah satu perkebunan di daerah Desa Batok.
Gemawilis/Pertanian - 
Komoditas perkebunan unggulan di Kabupaten Madiun yang tidak bisa di pandang sebelah mata adalah kopi coklat atau kakao. Hal itu kami ketahui setelah mencoba menelisik langsung ke salah satu desa yang terletak di daerah lereng Gunung Wilis, Desa Batok, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun.


Perlu diketahui, kebun kakao di Kabupaten Madiun tersebar di empat Kecamatan, yakni Kecamatan Dagangan, Kecamatan Kare, Kecamatan Saradan, dan Kecamatan Gemarang. Bahkan, Kabupaten Madiun merupakan sentra penghasil kakao terbesar di Jawa Timur.

Seorang pengepul kakao terbesar asal desa Batok, Ibu Sutini, saat ditemui mengatakan jika saat ini kopi coklat dari desa tersebut menjadi primadona pabrik-pabrik besar nasional kususnya pabrik di Jawa Timur.

Hal terebut menurut Bu Sutini dikarenakan kadar air yang terkandung pada kakao asal Desa Batok tergolong paling baik dibanding dari daerah lain. Sehingga acap kali mereka (pihak pabrik -red) sering berebut ingin mendapatkan bahkan rela jauh-jauh mengambilnya langsung ke lokasi.

"Memang paling bagus. Mereka mengakui. Gak hanya satu tempat, Kediri, Blitar, Mojokerto, Jogja, dan kota-kota lain banyak sekali yang pesan dan kadang sangking pingin kakao dari sini kadang mereka berani naikan harganya. Bahkan kalau di pabrik punya kita harganya paling mahal sampai saat ini, "tuturnya. Minggu (3/1/2021).

Pengepul kakao paruh baya itu mengaku saat ini hampir kualahan memenuhi pesanan pabrik, meski dia bilang dalam setiap minggunya ia selalu rutin mengirim kakao dengan jumlah 5 hingga 6 ton kakao kering dari Desa Batok. "Rutin 5 sampai 6 ton setiap minggu, "kata Bu Sutini.

Bu Sutini berharap kedepan ada terobosan di desanya agar hasil kakao dari warga bisa diolah. Karena selama ini para petani kakao di Desa Batok biasa menjual hasil panen langsung ke pengepul tanpa proses fermentasi. Padahal, apabila kakao tersebut diolah, akan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

"Mungkin belum banyak yang tahu proses pembuatnya padahal sayang, di luar kita diakui punya barang paling bagus tapi kitanya belum bisa memanfatkan. Ya, harapannya ada terobosan lewat desa mungkin, paling tidak kita jualnya sudah berupa olahan atau bubuk paling tidak, "harapnya.

Sementara, Kepala Desa Batok, Sutiono, senada dengan apa yang di katakan oleh salah satu pengepul kakao di desanya itu. Ia mengatakan memang kakao dari Desa Batok termasuk yang terbaik. Pihaknya juga lagi mencari trobosan terkait hal itu.

"Kami tau itu, cuman saat ini kami memang juga lagi mencari solusi bagaimana memanfaatkannya di desa kami. Itu sudah kami pikirkan, hanya kendala pandemi ini jadi agak terbenggalai, "ungkapnya.

Bahkan Kades Batok itu mengakui berkat dari hasil kakao kehidupan warganya bisa lebih sejahtera dibanding sebelumnya. Di Desa Batok menurutnya hampir mayoritas warganya mengandalkan hasil dari bertani kakao dalam mencukupi kebutuhan hidup.

"Harapan saya, nanti para petani tidak hanya menjual kakao mentah atau yang baru saja dipanen begitu saja, tetapi yang sudah diolah. Sedang kami pikirkan. Semoga para petani tetap semangat dalam menekuni bertani kopi coklat ini, karena kakao di desa batok punya potensi besar untuk dikembangkan, "tandasnya. (Tim/gw)