Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Monday, December 07, 2020

Dongkrek, Kesenian Asli Madiun yang Sempat Dilarang Untuk Dipentaskan

Salah satu kelompok kesenian Dongkrek asal Madiun
saat tampil di salah satu tempat wisata (dok/fot: ilustrasi).
Gemawilis - 
Bicara seni dan keragaman budaya Indonesia memang tak akan ada habisnya. Sebab Indonesia memiliki ribuan kesenian yang tersebar di seluruh negeri. Bahkan disetiap daerah yang ada di bumi nusantara ini mempunyai kesenian khas masing-masing. Madiun misalnya.


Madiun selain dikenal sebagai penghasil makanan Brem, juga dikenal dengan salah satu keseniannya yakni Dongkrek. Dongkrek merupakan kesenian asli dari Desa Mejayan, Kecamatan Mejayan, Madiun.

Dongkrek lahir sekitar tahun 1867 di Caruban (sekarang Kecamatan Mejayan). Awal kesenian ini muncul dipopulerkan oleh seorang Kepala Desa (dulu Demang) yakni Raden Ngabehi Lo Prawirodipuro.

Kesenian asli dari Madiun ini sangat unik, karena mempunyai musik dan properti khusus. Musik yang digunakan dalam Dongkrek adalah seni musik tradisional dengan iringan penari yang menggunakan topeng. Jenis topeng yang digunakan ada 3 macam, topeng gendruwo (Butho), topeng mbah Palang (orang tua), dan topeng putri (Roro Ayu).

Musik yang dihasilkan dalam kesenian Dongkrak bersuara "Dung" (dari kendang/beduk), dan "Krek" yang berasal dari alat berupa kayu yang sudah di modif sehingga mengeluarkan bunyian Krek saat di mainkan. Karena suara musik yang dihasilkan tersebutlah kesenian asal Kecamatan Mejayan ini disebut Dongkrek (Dung dan Krek).

Menurut sejarah, Dongkrek muncul berawal dari sebuah wabah penyakit. Pada waktu itu menurut cerita masyarakat ada muncul wabah penyakit yang menelan banyak korban. Banyak warga Mejayan yang sakit mendadak dan meninggal dalam waktu singkat.

Karena keadaan tersebut, akhirnya Raden Prawirodipuro mencari solusi untuk menyelamatkan warganya dari wabah penyakit. Meditasi pun dilakukan oleh Kepala Desa tersebut di sebuah gunung (wilayah gunung Kidul Caruban). Setelah beliau bertapa, akhirnya wangsit pun didapat dan mengarahkannya untuk membuat semacam kesenian yang bisa mengusir wabah penyakit.

Selanjutnya dibuatlah kesenian musik dipadu dengan tarian yang menggambarkan fragmentasi pengusiran roh halus pembawa penyakit itu. Dongkrek akhirnya muncul sebagai tolak bala atas pagebluk atau wabah penyakit pada kala itu.

Namun pada masa penjajahan kolonial Belanda dan pada masa Jepang berkuasa, semua kesenian dan tradisi kebudayaan yang ada di negeri ini sempat tidak boleh dipentaskan, termasuk Dongkrek pada waktu itu.

Pada tahun 1973, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun dan Propinsi Jawa Timur pernah membangkitkan kembali kesenian Dongkrek dengan merekonstruksi sejarah dan pakem kesenian. Penambahan alat musik pun digunakan supaya kesenian Dongkrek bisa lebih maju seperti alat musik tradisional kenong, gong, kentongan, gong berry dan kendang.

Namun demikian, kesenian Dongkrek sekarang sudah nampak jarang dipentaskan dan terancam punah. Seiring perkembangan jaman, seni tradisi sudah minim peminat karena masyarakat lebih tertarik pada kesenian yang lebih modern. (Tim/gw)

BERITA TERKAIT