Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
 

Sunday, November 8, 2020

Sejarah Sego Pecel Kuliner Lambang Kesederhanaan dan Hilangnya Aroma Daun Pisang yang Menjadi Ciri Khasnya

Gemawilis - Kuliner khas Jawa yang sudah melekat dan melegenda salah satunya adalah Sego Pecel, atau dalam bahasa Indonesia (nasional) Nasi Pecel. Di Jawa Timur terkenal diantaranya di Blitar, Malang, dan Madiun. Sementara di Jawa Tengah ada di Yogyakarta.


Entah darimana, yang jelas sampai hari ini asal muasal kuliner dengan khas sambal kacang ini belum bisa dipastikan awal kemunculannya berasal dari kota atau daerah mana.

Bahkan Wikipedia pun, tidak berani menuliskannya dengan pasti asal mula sego pecel kecuali dari tanah Jawa, saja.

Dalam sebuah buku "Babad Tanah Jawi", kata Pecel sendiri pernah disebut namun dengan pengertian pecel adalah sayur (daun) yang direbus kemudian dibuang airnya dengan cara memerasnya.

Dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, pada suatu hari Sunan Kalijaga bertemu dengan Ki Gede Pemanahan di tepi sebuah sungai. Kemudian Ki Gede Pemanahan menyuguhkan sepiring sayuran dengan sambal pecel, dan nasi. Sunan Kalijaga kemudian bertanya "hidangan apa ini?"

Lalu dijawab oleh Ki Gede Pemanahan, "puniko ron ingkang dipun pecel, yang artinya ini adalah dedaunan yang direbus dan diperas airnya.

Nah, dari situlah kemudian muncul sebuah asal muasal sebutan pecel dari Ki Gede Pemanahan, ketika beliau mengucapkan dipun "pecel" (diperas airnya).

Berjalannya waktu, dengan semakin majunya perkembangan jaman dan peradaban manusia, pecel kini tambil dengan banyak varian dalam penyajiannya.

Sayur yang sudah diperas dibuang airnya kemudian disajikan dengan kacang yang dihaluskan dengan cara ditumbuk serta diberi sedikit air. Rasanya pedas, manis, dan ada sedikit asinnya.

Setiap masing-masing daerah mempunyai cara dan ciri khas tersendiri dalam penyajian sego pecel tergantung kebiasaan dan improvisasi dari masyarakat setempat.

Pecel Madiun misalnya, atau Pecel Blitar dan Malang, meski sama-sama bernama sego pecel, namun cara penyajiannya sudah tidak sama. Ada yang ditambahi dengan telor, tempe goreng, peyek, ikan teri, bahkan daging kambing atau daging ayam.

Uniknya, sego pecel ini mempunyai kemasan yang sangat sederhana dimana-mana dan bisa dinikmati oleh semua kalangan baik miskin maupun kaya karena harganya yang sangat terjangkau bagi semua kalangan. Bahkan sego pecel disebut-sebut sebagai kuliner yang melambangkan kesederhanaan.

Kemasan nasi pecel biasanya paling mantap dinikmati dengan daun pisang atau daun jati dengan cara "dipincuk" (teknik membungkus nasi dengan cara tertentu).

Namun di zaman sekarang peran daun pisang dan daun jati sepertinya sudah mulai tergantikan oleh kertas bungkus coklat. Aroma daun jadi hilang, padahal aromanya jadi ciri khas sendiri saat menyantap nasi pecel. (Tim/gw)

Topik Lain