Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Saturday, October 17, 2020

Jelang Panen Raya, Petani Madu Liar Sekar Melati Lereng Wilis Rela Bermalam Didalam Hutan

Petani madu sekar wilis saat bermalam di dalam hutan kawasan pegunungan Wilis.
Gemawilis - Jelang memasuki masa panen, para petani madu liar di kawasan hutan pegunungan lereng Wilis rela bermalam di dalam hutan. Hal tersebut dilakukan agar madu liar yang selama ini mereka budidayakan didalam hutan aman dari gangguan pencuri dan panen madu bisa maksimal.

Para petani madu liar di kawasan lereng Wilis tersebut tergabung dalam kelompok Sekar Melati yang berada di desa Kare, RT. 21/05, Kacamata Kare, Madiun. Sekar Melati sendiri merupakan satu-satunya kelompok petani madu liar yang ada di Desa Kare Kacamata Kare, Madiun.

Selama ini, para petani madu tersebut telah berhasil membudidayakan kawanan lebah liar di dalam hutan dengan metode alami tanpa pemberian makan tambahan. Artinya, kawanan lebah liar yang mereka budidayakan secara alami tersebut mampu memproduksi madunya dengan mencari makan sendiri di dalam hutan. Para petani madu liar hanya menyediakan setup (rumah lebah dari kayu -red) selebihnya untuk membantu lebah mencari makan, mereka menanam berbagai bibit pohon buah atau pohon yang bisa berbunga yang mana bisa dijadikan makanan sang lebah di kawasan hutan tersebut.

Letak hutan yang dijadikan budidaya lebah liar sendiri berada di dalam hutan sekitar lereng gunung Wilis dalam wilayah BKPH Wilis, RPH Kare. Menjelang masa panen tiba, para petani madu secara bergilir menjaga setup di dalam hutan guna mengantisipasi pencurian.

Ketua Sekar Melati Pak Sentot, saat ditemui media mengatakan, panen madu di kelompok mereka berlangsung setiap satu tahun sekali, tidak seperti pembudidaya madu pada umumnya. Hal tersebut karena madu yang ia budidayakan merupakan hasil dari kawanan lebah liar yang ada di dalam hutan.

"Satu tahun hanya sekali, saat musim kemarau berakhir atau pada akir bulan Oktober seperti ini. Kami memang bisa disebut para petani madu, tapi jangan salah, madu hasil dari budidaya kami itu murni dari hutan. Bukan rekayasa, kami menjamin itu, "tutur Pak Sentot. Sabtu (17/10/2020).

Madu hasil dari budidaya Pak Sentot sendiri selama ini lebih dikenal dengan sebutan "Madu Liar Hutan Kare". Tidak hanya di Kabupaten Madiun saja Madu Liar Hutan Kare dikenal, namun sudah tersebar keseluruh daerah bahkan Nusantara.

Perlu diketahui, madu hutan atau madu yang dihasilkan dari kawanan lebah liar merupakan salah satu komoditas unggulan masyarakat yang ada di hutan sekitar lereng gunung Wilis seperti wilayah desa Kare misalnya. Oleh sebab itu, hasil panen madu hutan juga sangat membantu perekonomian masyarakat setempat dan menambah kearifan lokal desa.

Menurut Pak Sentot, untuk tahun ini prediksi hasil panen madu kelompok Sekar Melati akan mengalami kenaikan. Sebab selama ini beberapa pohon yang mereka tanam di kawasan hutan yang dijadikan pembudidayaan madu sudah besar-besar, sehingga kawanan lebah lebih mudah untuk mencari makan.

"Prediksi kami tahun ini meningkat, karena pohon yang kita tanam beberapa tahun lalu sudah menghasilkan bunga dan buah. Mudah-mudahan bisa memenuhi mebutuhan pasar, karena setok tahun kemarin habis sebelum masa panen tiba, "lanjutnya.

Selain itu ia juga menambahkan, metode atau cara kelompok Sekar Melati mengembangkan budidaya lebah di hutan juga ramah lingkungan sehingga keberadaan madu dapat berkelanjutan karena tetap dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat.

"Untuk penjaga kelestarian hutan kami selalu menanam pohon disetiap musim penghujan tiba. Kalau menjaga madu menjelang panen saat ini kami saling bergantian dengan teman-teman. Jadi ada yang jaga pagi, siang, sore, dan malam. Bukan apa-apa madu yang kami produksi memang tergolong susah, hanya bisa setahun sekali panennya. Selain itu dulu pernah ada yang jahil, ada yang ngambil madu dan merusak setupnya, "lanjut Pak Sentot.

Pak Sentot sendiri telah menggeluti profesi tersebut kurang lebih sudah sekitar 30 tahunan, sejak beliau lulus sekolah Madrasah tahun 1973. Waktu itu mencari madu masih dilakukannya dengan cara mencari di lubang kayu, tebing, padas (gowok). Mulai dari madu masih harga 30 ribu hingga sekarang harga madu murni liar bekisar 250-300 ribu per botol kecap takaran 620ml. (Wjr/gw)

BERITA TERKAIT