Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Thursday, July 30, 2020

Pemkab Madiun Tidak Izinkan Daerah Zona Merah Menyelenggarakan Sholat Idul Adha Secara Berjamaah

Gemawilis.com - Ada beberapa desa di Kabupaten Madiun tidak diperkenankan untuk menyelenggarakan salat Idul Adha secara berjamaah di masjid maupun lapangan pada Jumat (31/7/2020) besok. Intruksi itu guna mencegah penularan Covid-19 di desa yang saat ini berstatus zona merah.

Melihat masih tingginya ancaman virus Corona ditengah masyarakat, pada perayaan Idul Adha Tahun ini, Bupati Madiun menerbitkan Surat Edaran (SE) tentang Penyelenggaraan Shalat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Qurban Tahun 1441 H/2020 M menuju Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19 di Kabupaten Madiun.

SE tertanggal 29 Juli 2020 itu menyebutkan bahwa kegiatan shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan qurban dapat dilaksanakan di semua wilayah di Kabupaten Madiun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Akan tetapi perlu digarisbawahi bagi daerah yang telah ditetapkan sebagai zona merah oleh Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, tidak diperkenankan melaksanakannya.

Desa yang tidak diperbolehkan menggelar Salat Idul Adha, yaitu Glonggong (Kec.Dolopo), Jogodayuh (Geger), Purwosari (Wonoasri), Muneng (Pilangkenceng), Sidomulyo (Sawahan), Sidorejo (Kebonsari), Sidorejo (Wungu), Sidorejo (Saradan), dan Pagotan (Geger).

Berdasarkan surat edaran itu, diatur tiga hal untuk mencegah penyebaran Covid-19. Pertama, tentang pelaksanaan Salat Idul Adha meliputi penerapan protokol kesehatan, teknis pemecahan massa, durasi khotbah, dan sebagainya.

Kedua, tentang penyembelihan hewan kurban. Panitia diharuskan dalam kondisi sehat, tidak menghadirkan massa banyak, dan memakai masker. Sedangkan untuk pendistribusian daging kurban dilakukan dengan mengirimkan ke rumah.

Selain itu, Surat Edaran Bupati Madiun juga berisi tentang larangan pelaksanaan takbir keliling. Kegiatan itu hanya boleh dilaksanakan di masjid atau mushola dengan menggunakan pengeras suara. Pesertanya dibatasi paling banyak lima orang.

SE tersebut disusun berdasarkan beberapa peraturan yang telah ada sebelumnya, seperti SE Menteri Agama Nomor 18 Tahun 2020 dengan judul yang sama. (tim/gw)

BERITA TERKAIT