Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Saturday, July 11, 2020

Larangan Atraksi Topeng Monyet, Eksploitasi Dibalik Hiburan

Fot: ilustrasi google
Gemawilis - Keberadaan Topeng Monyet di tanah air memiliki sejarah yang panjang bahkan jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka. Ditenggarai atraksi ini sudah ada sejak zaman Kolonial Belanda dan masih eksis sampai saat ini meski kerap terjadi pro dan kontra di masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, pertunjukkan Topeng Monyet di Indonesia kian mendapatkan tentangan keras dari individu maupun aktivis pembela hak-hak satwa seperti JAAN, AFJ, GSI, BAWA, dll, karena dianggap telah memperbudak hewan sebagai pencari nafkah bagi sekelompok orang dengan mengabaikan kesejahteraan hewan itu sendiri. Juga Topeng monyet berpotensi menyiksa dan menyakiti satwa tersebut.

Menonton topeng monyet beraksi memang menyenangkan. Aksi cerdas dan lincahnya sanggup mengundang gelak tawa.
Tapi menurut kalian, topeng monyet adalah hiburan atau justru penyiksaan?

Terhitung sejak 18 Mei 2018, pertunjukan topeng monyet dilarang di seluruh Jawa Timur.

Pelarangan tersebut disampaikan melalui Surat Edaran (SE) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur.

Dalam hal ini, BKSDA mengungkap sejumlah pertimbangan mengapa pertunjukan topeng monyet tak lagi diperkenankan.

Disebutkan, kegiatan topeng monyet yang dilaksanakan di lingkungan masyarakat dapat menimbulkan ancaman terjadinya zoonosis atau perpindahan penyakit dari satwa kepada manusia. Hal ini dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan manusia.

Di samping itu, pertunjukan topeng monyet selama ini dinilai tidak menerapkan etika kesehatan dan kesejahteraan satwa (animal welfare). Hal itu berpotensi menyiksa dan menyakiti satwa tersebut.

1. Ancaman Penyebaran Penyakit

Topeng Monyet berpotensi menularkan penyakit dari hewan ke manusia (zoonosis) seperti rabies, hepatitis, TBC, dan cacingan. Bahkan tanpa perlu berinteraksi langsung seperti bersentuhan atau gigitan, lewat udara pun rentan terjadinya penularan.

2. Pelanggaran Hak Asasi Hewan

Pada kenyataannya monyet-monyet itu dilatih secara kejam tiga sampai enam bulan lamanya sebelum pertunjukan. Mereka sering dipukul dan diikat dengan rantai untuk mengikuti instruksi pawangnya. Bahkan giginya dipotong atau dicabut secara paksa supaya tidak menyakiti manusia. Mereka juga diisolasi dan untuk mendapatkan sedikit makanan, mereka harus kerja keras. Agar bisa berjalan tegak, tangan monyet diikat ke belakang, digantung dan dipaksa duduk berjam-jam. Supaya monyet terus berlatih, seringkali pemilik sengaja tidak memberikan makan.

Pengandangannya pun sangat tidak layak. Monyet ditempatkan di dalam kandang yang ukurannya sangat kecil, 30 x 40 x 40 cm. Dengan kandang sekecil itu, monyet mengalami stres yang membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit.

Tentu saja hal ini semua melanggar prinsip kesejahteraan hewan yang biasa juga disebut dengan Five Freedom dimana dikatakan hewan harus bebas dalam lima hal, yaitu bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari rasa tidak nyaman dan penyiksaan, bebas dari rasa sakit dan cedera, bebas mengekspresikan perilaku alaminya, dan bebas dari rasa takut dan tertekan.

3. Bisnis Yang Kejam

Biasanya yang dijadikan obyek atraksi topeng monyet ini adalah spesies monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) berusia muda (anakan), sekitar delapan atau sembilan bulan karena lebih gampang dijinakkan maupun dilatih. Mereka ditangkap dari hutan dan dipisahkan dari induknya oleh para pemburu yang lalu menjualnya kepada para pawang, untuk kemudian dilatih dengan cara disiksa dalam waktu yang lama supaya bisa melakukan atraksi-atraksi akrobatik tertentu .

Walaupun monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) belum termasuk dalam satwa yang dilindungi undang-undang karena populasinya masih banyak, tindakan penelantaran dan penyiksaan terhadap mereka tidaklah dapat dibenarkan. Pelakunya bisa dikenakan sanksi hukum sesuai dengan aturan yang berlaku secara umum terhadap hewan.

Setelah mahir, monyet-monyet ini lalu dieksploitasi oleh para pawang dengan cara disewakan kepada orang lain buat atraksi Topeng Monyet ataupun dijadikan layaknya pengemis untuk meminta-minta kepada orang yang lalu lalang disekitarnya seperti di area lampu merah perempatan jalanan.

Sebagian kalangan masyarakat Indonesia masih banyak yang berpikiran kalau topeng monyet adalah budaya atau tradisi turun temurun yang dianggap sebagai hiburan. Padahal, saat ini topeng monyet adalah bentuk eksploitasi manusia terhadap hewan untuk mendapatkan uang semata.

Kampanye 'Indonesia Bebas Topeng Monyet' pertama kali dilakukan di DKI Jakarta pada tahun 2013, di masa Gubernur DKI Jakarta Ir. Joko Widodo, dengan dikeluarkannya larangan dan melakukan penertiban kegiatan topeng monyet yang sempat menimbulkan pro kontra di masyarakat pada waktu itu. Selanjutnya diikuti provinsi Jabar dengan Bandung sebagai "Pilot Project" nya, lalu DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan kota-kota lainnya.

:Artikel ini kami rangkum dan kami edit dari beberapa sumber media resmi yang pernah terbit. (gw)

BERITA TERKAIT