Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Sunday, June 07, 2020

Jalan Menuju Wisata Religi Amburadul, Warga Bodag Kerja Bhakti Secara Mandiri Tidak Perlu Menunggu Dana Turun Dari Langit

Warga kerja bhakti membetulkan jalur ke makam.
Gemawilis - Demi kenyamanan peziarah ke Makam Syech Maulana Abdullah, warga desa Bodag bergotong royong secara mandiri membangun jalan yang sudah tidak layak untuk dilewati karena licin dan becek.

Kerja bhakti yang dilakukan oleh warga RT 10/03, dusun Bodag tersebut tepatnya berada di jalan menuju lokasi makam yang selama ini di jadikan wisata ziarah religi, yakni makam sepanjang tujuh meter atau makam Syech Maulana Abdullah, desa Bodag, Kecamatan Kare, Madiun.

Untuk menuju tempat makam Syech Maulana selama ini peziarah harus menyusuri medan jalan setapak dengan berjalan kaki kurang lebih sekitar 30 menit. Sebab tempat makam tersebut terletak di tengah hutan. Jarak dari pemukiman warga kurang lebih 1 kilo, dengan akses jalan yang masih berupa tanah.

Melihat keadaan jalan yang memprihatinkan, warga sekitar kususnya RT 10 merasa terpanggil untuk membenahi secara bergotong royong. Mas Yoko, salah satu warga yang ikut kerja bhakti mengatakan selama ini warga prihatin dengan keadaan jalan menuju ke makam karena jika musim hujan jalan becek dan susah untuk di lewati.

Padahal menurutnya makam Syech Maulana selain sering dikunjungi peziarah dari luar daerah juga merupakan aikon desa Bodag. Namun karena kurangnya sentuhan dan perhatian, para peziarah banyak yang mengeluhkan jika datang ketempat tersebut.

Akirnya untuk memberi kenyamanan dan mempermudah para peziarah menuju lokasi makam, Yoko dan warga yang lain sepakat melakukan gotong-royong dan kerja bhakti setiap minggu sekali. Bahkan mereka rela mengumpulkan dana secara sukare jika harus membeli kelengkapan material.

"Jika lama-lama dibiarkan tidak ada perhatian dari manapun, maka kami sebagai warga yang dekat dan merasa peduli berniat secara mandiri untuk bergotong royong melakukan kerja bhakti, "kata Yoko kepada media, Minggu (7/6/2020).

Selain untuk mempermudah para peziarah menuju lokasi makam, jalan setapak sepanjang 1 kilo dengan lebar 1 meter tersebut juga sebagai sarana dan prasarana warga masyarakat untuk mempermudah pengangkutan hasil-hasil pertanian seperti kopi, kakau, durian, pete, dan cengkeh.

Menurut Yoko, makam Syech Maulana Abdullah sendiri merupakan salah satu makam sejarah yang perlu di rawat dan di lestarikan, karena selain sebagai wisata ziarah makam tersebut juga bisa di jadikan sebagai kebanggaan desa atau ikon tersendiri bagi Pemerinrahan desa Bodag.

"Ini termasuk ikon desa, banyak orang luar daerah yang sering berkunjung kesini. Bahkan ada yayasan dan pondok pesantren yang sudah mempunyai acara rutin ziarah kesini di setiap bulannya, kedepan akan kami kembangkan sebagai wisata unggulan desa kami, "papar Yoko bersemangat.

Selama ini para peziarah menjadikan makam Syech Maulana sebagai refleksi keagungan Sang Maha Pencipta alam dan seisinya. Selain untuk tujuan wisata religi, lokasi makam Syech Maulana juga mempunyai pemandangan yang cukup bagus, karena tempatnya sendiri masuk ke areal hutan dengan jalan setapak di atas tebing jurang.

Sejak di temukannya makam Syech Maulana Abdullah pada tanggal 16 Maret 2003 oleh Doni, seorang mahasiswa Unibraw Malang, masyarakat desa setempat melakukan berbagai upaya untuk menjaga dan merawat makam.

Sementara itu, menurut Mbah Wagio sang juru kunci makam mengatakan awalnya makam tersebut terbiarka dan tak terawat, namun setelah di temukan dan mereka tahu kalau itu makam bersejarah, akhirnya warga bergotong-royong untuk membuat akses jalan.

Lebih lanjut beliau menuturkan hingga kini sudah banyak para pengunjung yang datang untuk berziarah ke makam Syech Maulana Abdullah. Bahkan sudah banyak para pengunjung yang datang dari luar Madiun. "Biasanya pengunjung akan ramai di kala musim kemarau, karena jalannya lebih mudah untuk di lalui, " terangnya.

Jika dilihat selain adanya potensi alam yang indah dengan pohon-pohon tinggi dan material batu yang melimpah, makam Syech Maulana ini juga bisa menjadi ikon dan kontribusi desa untuk di jadikan pengembangan wisata religi. Namun karena jalan becek dan licin jika musim hujan maka peziarah jadi sepi, selain itu juga kurangnya sentuhan pembangunan terutama akses jalannya yang masih sangat memprihatinkan.

Kembali Yoko menambahkan jika pembangunan jalan ini murni dari hasil swadaya masyarakat tanpa campur tangan Pemerintahan desa atau donatur dari luar. "Semua inisiatif warga tidak ada bantuan dari desa maupun dari donatur. Sebisa mungkin kami bergotong royong demi kenyamanan peziarah, lagian ini kan juga merupakan kebanggaan milik kami, "paparnya.

Kekompakan warga untuk menjaga makam Syech Maulana memang perlu di apresiasi karena mereka sadar jika tempat bersejarah tersebut bisa semakin dikenal masyarakat luas dan sering dikunjungi para peziarah luar daerah, maka keberadaannya juga akan berdampak pada perekonomian warga. Peluang usaha yang tercipta di area sekitar akan mengurangi pengangguran dan bisa mendongkrak ekonomi warga dusun Bodag. (Tj/gw)

BERITA TERKAIT