Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About

Monday, May 11, 2020

Ada yang Tau? Kenapa Bibir Pecah-pecah di Sebut Lumpangen

Gambar lumpang, alat penumbuk konvensional yang sudah jarang digunakan lagi pada jaman modern (fot: ilustrasi/google).
Gemawilis - Salah satu dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dengan semakin banyaknya peralatan yang muncul (diciptakan) untuk memberikan kemudahan bagi manusia dalam banyak hal dan berbagai bidang.

Salah satunya adalah alat trasidional buatan manusia yang sangat berjasa dalam bidang proses pembuatan makanan, dimana alat ini dulu menjadi satu-satunya alat manual penghancur bahan pokok makanan yang hanya dioperasikan oleh tenaga konvensional, yaitu tenaga manusia.

Alat tersebut bernama Lumpang dan Alu, kata para leluhur lumpang dan alu mempunyai filosofi kemakmuran, filosofi kehidupan yang sejahtera. Simbol pria dan wanita menuju hidup yang sejahtera, hidup yang berkecukupan lahir dan bathin.

Alat yang awalnya berbahan batu ini berfungsi sebagai menghancurkan bahan makanan, seperti jagung, singkong, padi, pun untuk menumbuk kopi dll. Juga bisa digunakan untuk membuat tepung.

Secara umum lumpang dan alu dibuat dari pohon jati dan atau batang pohon yang lebih kuat dan keras. Jenis alat ini pun juga dibedakan menjadi dua jenis, yaitu lumpang kecil dan lumpang besar.

Lumpang kecil biasanya digunakan untuk menumbuk bahan makanan atau rempah-rempah untuk dihaluskan seperti kacang-kacangan dan kopi. Sedangkan lumpang besar biasanya digunakan untuk menumbuk jagung, gaplek atau ketela, dan atau bahan makanan yang perlu dihaluskan dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan kacang dan kopi.

Menurut sejarah sebelum dimodifikasi pada jamannya, lumpang dan alu dibikin dari batu, namun lama kelamaan batu tumbuknya mulai punah dan diganti dengan kayu sebagai penumbuk, hingga kemudian masyarakat akirnya menggunakan bahan kayu baik untuk lumpang nya maupun alu nya.

Alat ini mulai sering digunakan oleh masyarakat pada masa sekitar 1945 hingga akhir 1980/90an. Karena sudah mulai muncul yang namanya alat penggilangan, pada akhirnya posisi lumpang dan alu mulai tergeser oleh alat penggilangan modern yang di operasikan menggunakan mesin bertenaga listrik hingga sekarang.

Tiap pagi atau mungkin 2 hari sekali pada jaman dulu masih banyak emak-emak melakukan kegiatan nenumbuk bahan makanan atau biasanya mereka sebut dengan Nutu atau Ndeplok.

Bahkan sangking memasyarakatnya alat konvensional lumpang dan alu ini, pada akirnya muncul sebuah istilah lumpangen. Dimana istilah ini biasanya dipakai sebagai istilah untuk sakit sariawan atau bibir pecah-pecah.

Lumpangen dipakai sebagai istilah Jawa untuk sakit sariawan karena biasanya jika terkena sariawan, maka bibir akan tampak pecah-pecah seperti halnya bibir lumpang yang juga demikian, pecah karena sering terkena ujung alu.

Akan tetapi karena alat seperti ini sudah sangat langka dan jarang sekali yang memiliki, bisa jadi banyak diantara kita yang belum pernah mengetahuinya apalagi melihatnya sama sekali. Terutama generasi modern.

Itulah kenangan yang masih bisa di ingat, keindahan kehidupan masyarakat kita pada jaman doeloe. Kekayaan budaya yang telah hilang dan punah. Hanya meninggalkan sebuah cerita untuk generasi jaman sekarang. (Tim/gw)

Rekomendasi