Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Monday, May 11, 2020

Ada yang Tau? Kenapa Bibir Pecah-pecah di Sebut Lumpangen



Gemawilis - Salah satu dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dengan semakin banyaknya berbagai peralatan yang memberikan kemudahan bagi kita dalam banyak hal untuk berbagai bidang.

Dan ada alat trasidional buatan manusia yang sangat berjasa dalam bidang proses pembuatan makanan, dimana alat ini dulu menjadi satu-satunya alat manual penghancur bahan pokok makanan yang hanya dioperasikan oleh tenaga konvensional, yaitu tenaga manusia.

Alat tersebut bernama lumpang dan alu, kata para leluhur lumpang dan alu mempunyai filosofi kemakmuran, filosofi kehidupan yang sejahtera. Simbol pria dan wanita menuju hidup yang sejahtera, hidup yang berkecukupan lahir dan bathin.

Alat yang awalnya berbahan batu ini berfungsi sebagai menghancurkan bahan makanan, seperti jagung, singkong, padi, pun untuk menumbuk kopi dll. Juga bisa digunakan untuk membuat tepung.

Secara umum lumpang dan alu dibuat dari pohon jati dan atau batang pohon yang lebih kuat dan keras. Jenis alat ini pun juga dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu lumpang kecil dan lumpang besar. Lumpang kecil biasanya digunakan untuk menumbuk kopi sedangkan lumpang besar biasanya digunakan untuk menumbuk jagung, gaplek atau ketela, dan atau bahan makanan yang perlu dihaluskan dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan kopi.


Menurut sejarah sebelum dimodifikasi pada jamannya, lumpang dan alu dibikin dari batu, namun lama kelamaan batu tumbuknya mulai punah dan diganti dengan kayu sebagai penumbuk, hingga kemudian masyarakat akirnya menggunakan bahan kayu baik untuk lumpang nya maupun alu nya.

Alat ini mulai ramai dipakai oleh masyarakat pada masa 1945 hingga akhir 1980/90an. Karna sudah mulai muncul yang namanya alat penggilangan, pada akhirnya posisi alat tersebut mulai tergeser oleh alat penggilangan hingga sekarang.

Tiap pagi atau mungkin 2 hari sekali pada jaman dulu masih banyak ibu-ibu melakukan kegiatan nenumbuk bahan makanan atau biasanya mereka sebut dengan "nutu".

Bahkan sangking memasyarakatnya alat konvensional lumpang dan alu ini, pada akirnya muncul sebuah istilah lumpangen. Dimana istilah ini biasanya dipakai sebagai istilah untuk sakit sariawan atau bibir pecah-pecah. Lumpangen dipakai sebagai istilah Jawa untuk sakit sariawan karena biasanya jika terkena sariawan, maka bibir akan tampak pecah-pecah seperti halnya bibir lumpang yang juga demikian.

Akan tetapi karena alat seperti ini sudah sangat langka dan jarang sekali yang memiliki, bisa jadi banyak diantara kita yang belum pernah mengetahuinya apalagi melihatnya sama sekali.

Itulah kenangan yang masih bisa di ingat, keindahan kehidupan masyarakat kita jaman doeloe. Kekayaan budaya yang telah hilang dan punah. Hanya meninggalkan sebuah cerita untuk generasi jaman sekarang. (gw)