Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
 

Tuesday, April 28, 2020

Penjual Durian Perempatan Wagir: Tahun Pageblug, Tahun Harapan Anjlok

Suparno, penjual buah Durian yang merasakan
dampak adanya pandemi Covid-19 yang melanda 
Gemawilis - Dampak dari covid-19 sangat dirasakan olah masyarakat, utamanya adalah menurun drastisnya perekonomian warga kalangan bawah.

Sejumlah tempat perbelanjaan, warung kopi, warung makanan dan lain sebagainya yang semula ramai kini sepi pengunjung. Kondisi ini membuat sejumlah usaha kecil mengaku merugi karena wabah virus corona.

Imbas corona ini juga dirasakan oleh salah satu penjual buah durian yang saben hari mangkal di Perempatan Wagir, yang terletak di desa Morang, Kecamatan Kare, Madiun. Perempatan Wagir berada di perbatasan antara desa Morang dan desa Batok, wilayah Madiun Timur.

"Mergo pageblug wis rakaruan pokoe (sebab corona gak karuan). sangat luar biasa perekonomian turun drastis. Berat kalau kondisinya seperti ini terus, pembeli sepi banget. Soalnya gak ada orang muleh kampung, "kata Pak Suparno, pada Senin (27/4/2020) di temui di lapak jualannya.

Warga desa Balok, dusun Kambatan RT. 19 ini, mengungkapkan, sejak adanya virus corona masuk, jualannya ikut sepi. Lebih-lebih pas awal-awal corona datang, jualan duriannya bisa dikatakan minus alias merugi berat.

"Sebelum ada pageblug (corona menurutnya pageblug) biasanya durian lebih laris soalnya banyak orang yang lewat di jalan, sekarang sepi banget. Padahal saya jualan durian paling murah, "imbuhnya.

Suparno atau lebih akrab di panggil Parno Bodong ini sudah berjualan buah-buahan sejak sekitar tahun 1965, jadi pahit getir pengalaman berjualan buah sudah kenyang ia rasakan. Biasanya Ia tidak hanya berjualan durian saja, namun segala buah yang lagi musim di Madiun Timur seperti mangga, pisang, alpukat, sirsak, dan lainnya sebagainya.

Demi menyambung hidup, meski keadaan sulit seperti saat ini, berjualan terus ia lakukan. Menurut bapak 3 anak ini, ia berjualan durian tidak banyak mengambil untung, setiap satu buah durian rata-rata pak Suparno hanya mendapat keuntungan sebesar Rp 2500. Dan durian yang dijualnya pun durian asli dari Madiun Timur, yang terkenal akan kelezatannya.

Menurut Pak Parno Bodong, ia mendapat keuntungan rata-rata Rp.2500 per buah. Biasanya ia menjual durian dengan harga bermacam-macam ada yang 15, 20, 25, dan 30 ribu. Bukan berarti yang harganya murah kurang lezat, tetapi menurut beliau, karena durian kemarin, atau stok 3 hari yang lalu, jadi semua durian yang ia jual, kualitasnya dijamin manis, lezat, dan tentunya sangat murah meriah.

"Resikonya banyak mas, apalagi kulakanya sudah pada mletek (red- pecah ujung kulit, karena buah sudah tua dan matang) duriannya jadi gak tahan lama. Jadi saya jual rugi, penting yang beli puas dan tidak kapok, misal kulakan harga 25 ribu saya jual 15 ribu jika sudah lewat 2 hari gak laku, "ujarnya.

Kenyang akan pahit getirnya berjualan durian, saat ditanya soal jualannya mendekati lebaran Idul Fitri, ia berkata tahun ini katanya tahun harapan anjlok. Menurutnya baru kali ini ia berjualan ditengah wabah pageblug. Dagang buah durian di tahun ini harapannya suram, karena tidak ada orang mudik ke kampung.

"Gimana gak anjlok, mas, orang jalan-jalan sudah gak bakal ada. Kalaupun ada ya, pasti orangnya sendiri, padahal yang sering beli buah itu kan misal hari-hari lebaran tetap orang-orang yang mudik dari kota-kota, jadi tahun ini tahun pageblug, tahun harapan anjlok, "keluhnya.

Resiko memang sudah menjadi hal biasa bagi para penjual buah seperti Pak Suparno, namun bagaimanapun kebutuhan hidup tetap harus di cari untuk menyambung hari-harinya. Kerja keras dan pantang menyerahlah yang akan menjadi kemenangan bagi orang-orang yang sabar seperti beliau.

Bagaimanapun juga, meski kadang merugi dan harus tombol, pak Suparno tetap seorang pahlawan dikeluarganya juga bagi para pemilik pohon durian, sebab di situasi seperti ini, saat susah menjual buah hasil bumi, pak Suparno tetap berjualan durian meski untungnya tidak menentu. (TJ/gw)

Topik Lain