Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Saturday, April 11, 2020

Geliat Roda Pertanian Alas Baon Ds. Randualas, Panen Raya Kali Ini Mereka Bilang Ngeri-ngeri Sedap

Gemawilis - Pernahkah kita berterima kasih kepada para petani penanam benih? Keramahan yang putih, ketulusan yang tak pernah menagih.

Seperti kata Revolusioner 1767-Kuba, Che Guevara "Petani itu adalah seorang yang berkeyakinan baik, orang yang bermoral tinggi, dan memiliki cinta kepada kebebasan yang kokoh". Semangat mereka tak pernah padam untuk menyiapkan lumbung pangan untuk bangsa ini. Geliat roda-roda pangan harus terus berputar.

Saat sebagian orang harus Stay Home, karena kepungan pandemi Covid-19, mereka tetap berkarya demi kemakmuran negeri ini. Roda pertanian tetap mereka jalankan, tak kenal lelah dan tak butuh pengakuan, niat mereka hanyalah bagaimana semua orang di negeri ini bisa kenyang tanpa kekurangan sedikitpun makanan.

Seperti yang dilakoni oleh para "Petani Jagung binaan Zain" dusun Dawung, desa Randualas ini. Di bulan April biasanya mereka para petani memasuki masa panen raya, jagung, padi (gogo) yang mereka tanam di lahan hutan garapan milik Perhutani atau masyarakat Madiun Timur biasa menyebutnya Baon.

Seperti bapak paruh baya ini, sebut saja Pak Djamin, ia juga memanen jagung dan padi gogo miliknya di kawasan hutan wilayah Dawung, Lahan Perhutani Blok 1, desa Randualas, Kecamatan Kare, Madiun, Sabtu (11/4/2020).

Para petani mengandalkan roda dua untuk mengangkut hasil panennya dengan melewati jalanan becek berlumpur. Satu sepeda motor bisa membawa 2 hingga 3 karung sekali jalan. Menurut Djamin, paling sulit ketika mereka mengangkut panenan jika hujan turun tetapi posisi masih ada di tengah hutan.

"Ya, resiko mas, jika hujan masih di baon, tambah sulit jalannya. Bisa selip ban, banting kiri kanan. Jatuh sudah biasa, "katanya.

Tapi menurutnya, yang lebih ngeri jika panen raya harga jagung turun, selain rugi tenaga juga akan rugi dalam segi permodalan. Apa lagi sekarang lagi ada virus Corona, takutnya para pedagang besar tidak mengambil jumlah besar karena pembatasan transportasi. Harga jadi turun.

"Petani itu gak takut medan sulit sebenarnya, apalagi cuaca panas, hujan, sudah biasa. Tapi lebih takut jika harga komoditi pertanian anjlok, bisa remuk. Apalagi sekarang lagi ada corona, jadi ya ngeri-ngeri sedap. Ngeri jika harganya turun, dan sedapnya karena yang ditungu-tunggu telah tiba, yakni musim panen, "kelakar Pak Djamin sambil becanda.

Ia juga mengatakan, saat ini yang jadi kendala adalah akses jalan menuju hutan sangat sulit dijangkau kendaraan, serta kecukupan pupuk waktu menggarap jagung. Selama ini mereka tertolong oleh suplai pupuk dan obat pertanian dari toko Zein Tani Dawung.

"Harapan kami ya, semoga pihak terkait menata ulang RDKK, LMDH agar ketersediaan Pupuk Subsidi petani terpenuhi kedepan, serta dibantu makadam Jalan, tidak perlu halus, tapi cukup makadam jalan saja, biar petani makin gayeng menjalankan roda pertaniannya, "harapnya. (TJ/gw)