Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Tuesday, March 31, 2020

Obrolan Corona dengan Moh Indro Cahyono, Mau Tau?

Gemawilis - Kami kutip dari account yang ada di dinding Facebooke (FB) beliau, Muhammad Indro Cahyono (account FB: Moh Indro Cahyono) begini isi kutipan obrolannya;

Bincang Santai dengan "Indro Corona" Virus Ini Sudah Ada Sejak Sebelum Masehi

Nama Muhammad Indro Cahyono akhir-akhir semakin mendunia. Lulusan universitas yang sama dengan Presiden Jokowi ini semakin sibuk mondar-mandir ke kantor-kantor pemerintah untuk memberikan nasihat tentang penanganan virus Corona.

Ahad tadi, Kami bertemu di sebuah minimarket di bilangan Wahid Hasyim, Jakarta.

Sambil ngopi, dia menyapa saya di sela-sela membaca buku tebal protokol penanganan corona Wuhan. Ahli virus yang selama 20 tahun meneliti virus ini mengatakan berbagai pandangannya yang unik tentang virus corona.

Berikut transkrip wawancaranya:

Randu Alamsyah (reporter):
Apa sebenarnya virus corona ini dan bagaimana asal mulanya?

Indro Corona (pakar Covid19):
Ini virus lama. Bahkan sebelum Yesus lahir. 200 tahun sebelum masehi udah ada corona.

Virus corona ini jumlahnya banyak. Setiap virus corona itu spesifik ke spesies tertentu. Ada yang buat kelelalawar, ya (menjangkiti) kelelawar aja. Ada yang buat manusia, ya manusia aja. Ada yang buat anjing, ya anjing aja.

Randu: Bagaymana spefifikasinya, bagaimana membedakannya?

Indro: Pernah lihat gambar virusnyakan? Virusnya bulat, ujungnya beda-beda. Duri-durinya itu (yang berbeda). Ada yang buat (menancap) manusia, ya buat manusia doang. Ada yang buat kelelawar ya, kelelawar doang.

Randu: Jadi gak mungkin kalau dibilang makan kelelawar jadi dijangkiti virus corona?

Indro Corona: Gak.
Tapi kalau saya ditanya, apakah corona sama dengan covid 19 ya mirip bentuknya. Tapi kalau dari kelelawar bisa nempel ke manusia, ya jawabannya gak.

Randu: Berarti bukan dari kelelawar?

Indro Corona: Bukan.
Murni dari manusia, WHO aja bilang itu murni dari manusia.

Randu: Kalau dari manusia, pasti ada penyebar pertamanya...

Indro Corona: Ya, penyebar pertamanya dari Wuhan sana, kenapa dia bisa muncul dari sana dan nyebar banyak, ya kita gak ngerti.

Spekulasinya banyak. Cuma kalau saya ditanya sebagai orang yang sudah lama maen sama virus, apakah itu bisa dibikin supaya bisa nyebar cepat dan bisa nempel ke manusia, ya saya bilang bisa dibikin.

Randu: Lewat intervensi para ilmuwan?

Indro Corona: Bisa. Gak akan sulit.
Kalau orang yang biasa maenan virus, itu bisa. Cuma sekarang gak ada gunanya lagi kita membahas itu, wong virusnya sudah nyebar.

Randu: Lalu bagaimana cara menangani penyebaran virus corona yang sangat cepat ini?

Indro: Virusnya pake sabun hancur, pake bayclean hancur. Pake sunlight cuci piring hancur. Pakai deterjen untuk cuci baju hancur. Pakai yang buat ngepel lantai hancur.

Randu: Pakai cairan disinfektan yang biasa disemprot itu? Cairan itu untuk membersihkan virus atau mencegahnya?

Indro Corona: Nah itu sama kayak kita ngepel lantai.
Lantai kita pel, udah bersih kan? Nah terus ada yang datang, ya kotor lagi. Jadi kalau ada orang yang gejala flu, ya baiknya di rumah aja. Supaya gak ngotorin yang lain. Ntar, seminggu dua minggu dia sembuh sendiri kok dengan antibodi tubuh manusia. Setelah sembuh baru keluar.

Randu: Kalau keluar, apakah sudah kebal dari corona?

Indro Corona: Gak. tetap bisa kena lagi. Kalau sudah kena pertama, sakit dulu seminggu. Kebal dalam waktu dua minggu. Nah kalau keluar rumah setelah itu, bisa kena lagi cuma anti bodinya sudah cepat. Bukan tujuh hari lagi, langsung sehari antibodi keluar, virusnya hilang. Karena kita udah pernah kena. Sama kayak vaksin cacar. Gak tiap bulan divaksin kan? sekali seumur hidup aja. Tujuan vaksinasi kan untuk ngenalin virus, pas sewaktu-waktu ada, langsung ngeluarin antibodi. Cara paling tepat untuk ngeluarin anti bodi ya makan vitamin E.

Randu: Kalau demikian mudahnya virus ini hancur, kenapa banyak yang meninggal, contohnya di Italia...

Indro Corona: Kasusnya berbeda, di Italia yang meninggal itu banyak orang tua. Mereka biasanya sudah punya penyakit bawaan. Di Wuhan sekarang kan semua sembuh, bagaimana sembuhnya? ya pakai vitamin E, emang mau pakai apaan? Wong vaksin dan obatnya belum ada.

Randu: Jadi sebenarnya sejak kapan virus ini masuk Indonesia?

Indro: Saya mengira virus ini bukan masuk pada bulan Maret. ke Indonesia, februari dia udah ada. Cuma gak kedetect. Yang kedetect baru di depok. Yang pasien 1, 2 3 itu. Akhirnya sembuh.

Kalau menurut saya di populasi yang banyak kayak ini, bulan Februari udah masuk. Coba ingat-ingat lagi, apakah di bulan Februari kita pernah demam? Tanya aja sama teman-teman, ada yang kena flu biasa, biasa ada yang agak parah. Tapi kan sembuh sendiri, lima hari.

Dugaan saya, ya itu covid.

Randu: Apakah dengan penyebaran virus ini pemerintah perlu melakukan lockdown?

Indro Corona: Saya kira, gak perlu. Ngapain?

Randu: Lalu bagaymana dengan Wuhan yang katanya sukses meratakan kurva penderita covid 19 dengan melakukan lockdown?

Indro Corona: Yang di Wuhan beda kasusnya. Sistem deteksi lebih bagus dari kita. Cuma lockdown di Wuhan doang sumbernya. Kalau mau lockdown harus tahu sumbernya, dilockdown benar kalau tahu sumbernya.

Nah sekarang kalo dibalikin ke indonesia. Coba mana yang mau dilockdown?

Di Jakarta ada, di Surabaya ada, di Banjarmasin ada, Solo ada.

Mau lockdown mananya?

Randu: Terus apa yang harus dilakukan?

Indro Corona: Gak usah panik, karena kalau panik malah gak bisa apa-apa. Cukup jaga kebersihan dan banyak minum vitamin E.

Randu: Terakhir nih Om Indro, prediksi Anda sebagay orang yang sudah lama berkecimpung di dunia virus, akan berapa lama situasi covid -19 ini berhenti?

Indro Corona: Gak lama. Dalam dua minggu setelah ini, sudah menurun, lalu selesai.

Semoga semua ini cepat berlalu dan kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang dan nyaman.

Transkrip wawancara dengan Muhammad Indro Cahyono, salah satu virologis terbaik Indonesia.

Sumber: Prokal
Reporter: wartawan Radar Banjarmasin, Randu Alamsyah. (Tim/gw)