Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About
 

Thursday, February 13, 2020

Cakruk Ijo dan Cerita Misteri Warga, Kakek Misterius Hingga Hantu Kunti

Penampakan Cakruk Ijo di tikungan jalan alternatif
antara Hutan Pinus Nongko Ijo Kare dan Pltu Giringan.
Gemawilis - 
Mungkin banyak orang yang belum tau keberadaan cakruk ini. Karena letaknya sendiri memang berada di tempat terpencil, jalan kecil alternatif. Bukan di pemukiman atau di pintu masuk dusun.

Orang-orang menamainya Cakruk Ijo (pos hijau), padahal warnanya sendiri jauh dari nama yang di sandangnya. Entah benar atau tidak kalau ini memang cakruk ijo seperti yang di bilang orang-orang. Karena saat tim kami menelusuri keberadaannya di area tersebut tidak bisa menjumpai satu orang pun. Maklum, tempatnya sendiri jauh dari pemukiman.

Konon cakruk ijo ini lumayan wingit atau angker, menurut cerita yang berkembang dari masyarakat dengan berbagai versinya.

Cakruk ijo sendiri berada di tikungan jalan kecil yang menghubungkan antara Dusun Giringan Desa Kepel ke daerah Desa Kare, lebih tepatnya jalur alternatif orang-orang sekitar desa Kepel untuk menuju daerah yang ada di wilayah desa Kare, via Wisata Nongko Ijo Kare, Kecamatan Kare, Madiun (area wisata nongko Ijo bagian bawah).

Siang hari suasana disini memang terasa cukup sepi dan sunyi, angin terasa menusuk ke pori-pori hingga berasa atis. Karena letaknya sendiri ada di cekungan di bawah gundukan tanah lahan warga yang sedikit bertebing dan ada beberapa pohon yang lumayan besar di sekitarnya.

Entah untuk apa fungsinya kami sendiri kurang tau dengan keberadaan pos yang di tempatkan di area tersebut, namun dari cerita banyak orang, konon cakruk ijo merupakan tempat yang banyak menyimpan kisah misteri.

Dari beberapa sumber yang kami dapati, katanya pernah ada nampak seperti kakek tua sedang bersandar di pos saat menjelang magrib (surup). Saat ditelusuri masyarakat setempat tidak ada yang mengenal keberadaan sosok misterius tersebut. Kejadian itu ada 3 - 4 orang yang pernah melihatnya.

Hal ini di kuatkan oleh cerita seorang warga asal Desa Cermo Kecamatan Kare, sebut saja Faris. Saat kami bertemu beberapa hari sebelumnya di sebuah warung kopi, Faris bercerita mengenai pengalamannya, dan dari situlah awal kami penasaran dan mencoba ingin tau lokasi cakruk ijo itu sendiri.

Faris bercerita, suatu hari ia hendak pergi ke dusun Kasihan (wilayah desa Kepel) ke rumah temannya untuk suatu urusan. Tidak mau lewat jalan umum, (akses jalan utama) yaitu via Wungu Grape, karena Ia pikir jika lewat sana terlalu jauh karena harus berputar dan hanya akan buang waktu.

Karena harus buru-buru, Faris pun nekat menerobos jalan alternatif terdekat lewat Wisata Nongko Ijo. Sedangkan waktu sudah mulai beranjak gelap karena selepas Magrib Faris baru saja berangkat.

Masuk dan berangkat lewat wisata Nongko Ijo kemudian keluar dibagian bawah hutan pinus, selanjutnya Faris menyusuri jalan kecil yang lumayan panjang di bawah tebing dan diatas sungai (saluran air plta giringan), kata Faris saat itu seperti tidak ada rasa apa-apa, meski sedikit gelap tetapi cuaca cukup cerah.

Setelah 20 menitan melaju dengan roda 2, dengan melewati terjalnya jalan alternatif ia pun semakin dekat dengan cakruk ijo. Setelah berada dekat dengan pos, tiba-tiba hujan lebat datang, padahal waktu itu saat ia berangkat langgit cukup terang dan cerah.

Tidak mau basah karena kebetulan tidak membawa jas hujan, Faris pun langsung menepikan motornya tepat di depan cakruk. Kemudian ia masuk dan duduk di dalam cakruk ijo tersebut.

Merasa sudah menghabiskan 2 batang rokok kretek dan hujan belum juga reda, ia pun mencoba menghubungi temannya untuk memberi kabar bahwa dirinya lagi kehujanan di cakruk ijo (kebeteng).

Menurut Faris keanehan mulai terasa ketika ia hendak menghidupkan Smartphone (hp) miliknya. Hp yang sebelumnya normal dan batrenya juga sebelumnya sudah di cek penuh tiba-tiba tidak mau hidup, di tekan beberapa kali hasilnya sama, tetap mati. 

Kulit sekujur tubuh mulai merinding, nyali pria itu pun mulai ciut, keringat dingin mulai terasa lembab keluar dari telapak tangan. Faris juga menuturkan, saat itu ia mulai mencium bau aneh, aroma wewangian. "Aromanya kian semakin menyengat hidung, soyo suwe, soyo mambu, seperti bau minyak serimpi, "katanya.

Tidak peduli dengan hujan deras, Faris langsung naik ke atas motor ketika suasana mulai membuatnya hilang akal. Bau wangi semakin menyengat. Sialnya, motor yang tadinya normal tiba-tiba ngadat dan tidak bisa di hidupkan. Beberapa kali di coba motor tetap tidak mau menyala.

Setelah beberapa kali mencobanya dan motor tetap tidak mau hidup, ia pun mendorong motor miliknya dengan perasaan yang sudah campur aduk dan rasa takut yang sudah merasuki seluruh pikiran dan ubun-ubunnya.

Baru sekitar 2 meter mendorong motornya, ia di kejutkan dengan suara aneh, terdengar gemerincing sangat jelas yang berasal dari dalam cakruk. Suara itu pun dibarengi dengan suara seseorang yang samar-samar terdengar seperti memanggil "mas, mas, dari arah belakangnya.

Tanpa pikir panjang, Faris pun mendorong motornya sambil berlari dengan berjalan ngawur karena malam itu menurutnya keadaan cukup gelap gulita.

"Wis mboh, ora karuan rasane wektu iku. Pokok sak bantere hondaku tak surung, "cerita Faris.

Sekitar 20 meteran mendorong motornya, Ia pun merasa hujan sudah reda dan motor langsung Ia coba nyalakan kembali. Aneh, motor tiba-tiba normal dan bisa hidup kembali, sandal yang ia pakai juga tidak sedikit pun kena lumpur tanah (jeblog, jeplok).

Setelah mengendarai motor dan sampai jalan, tepat di atas bendungan PLTN Giringan (segaran) Ia pun berhenti di bawah sinar lampu jalan sambil celingukan dan heran. Ia melihat aspal jalan, tanah, dan rumput disekitarnya, semua nampak kering tanda hujan tidak turun sama sekali pada malam itu.

Selain sosok kakek misterius dan cerita dari Faris diatas, katanya juga ada pula yang pernah melihat penampakan hantu Kunti berbaju putih setinggi pohon belakang pos sedang bergelantungan layaknya seperti kain mori sedang di jemur di atas pohon.

Namun semua itu hanya sekedar cerita, kita sebagai umat beragama tentunya sudah tau bagaimana menyikapinya tergantung pribadi kita masing-masing karena mereka selalu ada di sekitar kita. (DS/gw)

-Ditulis berdasarkan cerita dari masyarakat dan dikuatkan dari cerita pengalaman Faris.

Topik Lain