Home Berita Peristiwa Nasional Kriminal Laka Pendidikan Pertanian Kabar warga Wisata Sitemaps Privacy policy About as
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Saturday, February 15, 2020

Bisa Jadi, Generasi Madiun Timur Yang Akan Datang Tidak Akan Tau Lagi, Lezatnya Kuliner Alami Ini?

Dulu pohon ini masih terlihat banyak tumbuh di wilayah Madiun Timur dan sekitarnya, selain bermanfaat untuk menjaga alam, biji dari pohon ini pun lezat penuh citra rasa yang berbeda di banding sejenisnya.
Gemawilis - Hujan-hujan paling enak ngemil. Nah, di Madiun timur, selalu ada makanan cemilan yang khas dan special jika musim penghujan datang. Ada yang beda dan tak perbah tergantikan keberadaanya ketika musim hujan tiba.

Apa lagi kalau bukan Benda atau Bendo (Artocarpus elasticus), warga Madiun timur pasti tau. Atau bahkan ada yang belum pernah tau dan merasakan lezatnya makanan jenis kacang-kacangan ini? Bangeten!!.

Pohon Benda termasuk dalam famili Moraceae  dan genus Artocarpus ini masih berkerabat dekat dengan Nangka, Sukun, dan Cempedak. Namun bendo ternyata kalah tenar dibanding kerabatnya tersebut.

Di beberapa wilayah di Indonesia pohon Bendo atau Bendha, dikenal dengan beberapa nama lokal yang berbeda. Mulai teureup (Sunda), bendo (Jawa), kokap (Madura), dan taeng (Makassar). Sedang di Kalimantan dikenal sebagai erap, kapua, kumut, atau pekalong dan lain sebagainya.

Benda merupakan tumbuhan berumah satu (monoecious), berukuran sedang, dengan tinggi pohon bisa mencapai antara 45-65 meter. Kulit pohon berwarna abu-abu gelap hingga kelabu kecokelatan sedang bagian dalamnya kekuningan hingga cokelat pucat, teksturnya halus atau agak bersisik. Saat dilukai, kulit kayu mengeluarkan lateks tebal berwarna putih atau getah.

Bendo adalah tumbuhan asli Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tersebar secara alami di Indonesia, Myanmar, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Di Indonesia dapat dijumpai hampir di seluruh Nusantara, kecuali di Papua. Umumnya tumbuh meliar di hutan-hutan dataran rendah hingga ketinggian 1.500 meter dpl.

Getah bendo sering digunakan sebagai perekat untuk menjerat burung. Nah, yang paling enak dinikmati dari tumbuhan ini adalah bijinya, selain gurih juga punya keunikan rasa yang beda, ada yang bilang lebih enak dari pada kacang goreng.

Memang agak susah untuk mendapatkan isi atau biji bendo sendiri, perlu ketrampilan kusus. Karena biji bendo harus diambil dari dalam buah bendo yang mirip seperti nangka. Direbus atau di bakar, baru bisa didapati bijinya.

Tidak hanya itu, makan bendo pun tangan dan mulut kita juga akan berwarna hitam, karena paling nikmat katanya biji bendo itu cara menggorengnya jika dengan alat wajan yang bahannya dari tanah atau kreweng. Di gosreng di atas bara api, Pawon.

Rumit memang, namun kerumitan dari mulai mencari buahnya di hutan, mengambil bijinya hingga cara memakannya akan terbayar saat kita menikmati biji kacangnya, gurih dan lezat, beda banget dengan jenis kacang pada umumnya. Yang jelas, bendo mempunyai citra rasa yang khas dan benar-benar beda dari jenis kacang-kacangan yang lainnya.

Tapi saat ini pohon bendo sudah mulai jarang didapati, bukan tidak mungkin anak cucu kita kelak tidak bisa dan tidak pernah tau lezatnya kuliner alam ini. Karena pohon bendo mulai menjadi tanaman langka. tumbuhan ini semakin sulit ditemukan karena tergusur oleh berbagai tanaman budidaya lain yang dianggap lebih bernilai ekonomis. Selain itu juga akibat kerusakan habitat (deforestasi) dan kebakaran hutan.

Langkanya pohon bendo, yang sudah tidak diminati lagi untuk di tanam, sebetulnya sangat disayangkan, selain sebagai sumber mata air, sistem dari stratifikasi pohon bendo dapat membantu proteksi tanah dan air yang optimal dan menghindari terjadinya erosi yang di akibatkan oleh daya jatuh butiran hujan yang terlalu besar. (wj/gw)